BNPT-Komisi XIII DPR RI Libatkan Guru Cegah Anak Terpapar Ideologi Kekerasan

BNPT-Komisi XIII DPR RI Libatkan Guru Cegah Anak Terpapar Ideologi Kekerasan

Nizar Aldi - detikSumut
Selasa, 20 Okt 2026 16:01 WIB
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso dan Plt Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT Irjen Pol Wawan Ridwan di Medan (Foto: Nizar Aldi/detikSumut)
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso dan Plt Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT Irjen Pol Wawan Ridwan di Medan (Foto: Nizar Aldi/detikSumut)
Medan -

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan terdapat 746 anak di Indonesia yang terpapar ideologi kekerasan. Salah satu langkah pencegahan radikalisme hingga ideologi kekerasan.

"Anak-anak kita tidak hanya belajar di kelas, mereka juga belajar dari layar gawai dari media sosial, video pendek dan grup percakapan, memperoleh dan menyebarkan informasi memang luar biasa mudah, tetapi kemudahan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan propaganda, ujaran kebencian, disinformasi serta ajakan yang mengarah ke radikalisme dan terorisme," kata PLT Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT Irjen Pol Wawan Ridwan di Medan, Selasa (20/10 /2026).

Wawan menjelaskan peran guru sangat penting dalam pencegahan ideologi kekerasan. Sehingga BNPT bersama Komisi XIII DPR RI membuat kegiatan memperkuat peran guru dalam menangkal paham kekerasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita memang sengaja menggagas kegiatan untuk edukasi literasi digital yang kita laksanakan di Sumatera Utara ini, kami menggandeng mitra kami dari Komisi XIII. Kegiatan ini membentengi anak-anak kita, tadi sudah disampaikan oleh Pak Sugiat dalam kegiatannya itu, dari serangan-serangan konten-konten digital yang radikal, itu yang akan kita berikan apa namanya pemahaman kepada guru-guru kita, kita jadikan buatkan silabus agar mereka meneruskan kepada anaknya, tadi dalam rangka bagaimana menggunakan dakwah yang baik," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Data terbaru, kata Wawan, terdapat 746 anak di 26 provinsi yang terpapar ideologi kekerasan. Angka itu disebut bisa jauh lebih banyak lagi meskipun tidak semau terpapar jaringan terorisme.

"Dirilis tahun 2026 ini, itu baru dirilis ya, sementara sekitar 746 anak itu di 26 provinsi kalau tidak salah tapi akan jauh lebih banyak lagi, karena itu pun dari sekian itu, itu mereka sudah terpapar dengan tadi ideologi kekerasannya walaupun memang tidak semuanya yang dipapari oleh jaringan terorisme. Tapi itu, itu sangat berbahaya karena itu sudah menyebar di seluruh hampir di seluruh provinsi di Indonesia," ucapnya.

Kemudahan memperoleh dan menyebarkan informasi saat ini menjadi tantangan dalam pencegahan penyebaran ideologi kekerasan. Dengan kegiatan ini, diharapkan guru dapat memberikan pengajaran kepada generasi muda untuk pencegahan ideologi kekerasan.

"Kita di sini khususnya di Sumatera Utara, kita berikan pemahaman kepada para guru, tadi bagaimana cara mengajarkan kepada anak-anak generasi muda, khusus di sekolah masing-masing, agar mereka mampu menggunakan media sosial yang baik, kemudian juga mereka bisa apa membentengi diri dari konten-konten yang tadi yang berpaham radikal," ucapnya.

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso menyambut baik kegiatan BNPT dalam menangkal ideologi kekerasan menyebar di anak-anak. Kegiatan ini dinilai sangat baik karena melibatkan guru dalam menyusun silabus untuk pembelajaran di sekolah.

"Kami mengapresiasi dan mendukung program yang dilaksanakan oleh BNPT terkait dengan program literasi digital berbasis moderasi, khususnya lagi menyasar ke anak-anak kita ya, apalagi ini kan pesertanya banyak guru-guru yang nantinya besok akan dilatih untuk menyusun silabus bagaimana penyampaian pelajaran-pelajaran itu juga disisipkan terkait dengan bahayanya paham-paham kekerasan yang masuk ke ruang digital," sebut Sugiat Santoso.

Sugiat mengungkapkan saat ini banyak anak-anak sangat mudah melakukan tindakan kekerasan karena melihat contoh dari media sosial maupun game. Selain orang tua, guru juga dinilai memiliki peran dalam melakukan pencegahan.

"Oleh karena itu, sekali lagi, peran selain orang tua ya, selain orang tua, peran dunia pendidikan untuk pencegahan ini, peran dunia pendidikan itu ya peran gurulah," tuturnya.



(niz/dhm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads