Punya Banyak Pakaian, Kenapa Masih Merasa Tidak Punya Baju? Ini Sebabnya

Punya Banyak Pakaian, Kenapa Masih Merasa Tidak Punya Baju? Ini Sebabnya

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Selasa, 20 Okt 2026 22:30 WIB
Young adult woman standing near modern wardrobe at home with contemporary interior, choosing trendy clothes, having difficult choice not knowing what to put on, trying on fashionable wear
Foto: iStock
Medan -

Lemari pakaian penuh, tetapi setiap kali hendak bepergian, masih merasa tidak memiliki baju yang cocok untuk dikenakan. Akibatnya, muncul keinginan membeli pakaian baru meskipun koleksi di rumah sebenarnya masih cukup banyak.

Kondisi ini dapat terjadi karena berbagai alasan, mulai dari kesulitan memadukan pakaian, perubahan selera, hingga keinginan mengikuti tren yang terus berganti. Pakaian yang sebelumnya dianggap menarik bisa terasa membosankan ketika seseorang melihat model baru yang sedang populer.

Terlalu Sering Mengikuti Tren Pakaian

Tren pakaian yang terus berubah dapat memengaruhi cara seseorang menilai koleksi yang dimilikinya. Media sosial juga memudahkan seseorang melihat berbagai model dan inspirasi penampilan baru. Paparan tersebut dapat memunculkan keinginan memperbarui koleksi meskipun pakaian lama masih layak digunakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini berkaitan dengan penelitian Adiyaksa Lukmanul Hakim dan rekannya berjudul Kritik Globalisasi: Fenomena Fast Fashion Sebagai Budaya Konsumerisme Pada Kalangan Pemuda Kota Surabaya, yang diterbitkan dalam Al Ma' Arief: Jurnal Pendidikan Sosial dan Budaya 2022.

Penelitian tersebut melibatkan 40 responden laki-laki berusia 19-25 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh responden menyukai produk fast fashion, yaitu pakaian yang mengikuti perkembangan tren secara cepat. Sebanyak 20 responden mengaku membeli produk pakaian setiap minggu. Penelitian itu juga membahas keinginan menyesuaikan penampilan dan mengikuti tren sebagai alasan pembelian.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, penelitian tersebut tidak secara khusus mengkaji perasaan tidak punya baju ketika lemari penuh. Temuannya menggambarkan perilaku konsumsi pakaian yang dapat menjadi salah satu konteks untuk memahami kebiasaan memperbarui koleksi.

Banyak Pakaian Tapi Sulit Dipadukan

Jumlah pakaian yang banyak tidak selalu membuat seseorang memiliki banyak pilihan. Seseorang mungkin mempunyai beragam atasan, tetapi sedikit bawahan yang cocok. Ada pula yang memiliki banyak pakaian untuk acara tertentu, tetapi kesulitan menemukan kombinasi untuk kegiatan sehari-hari.

Akibatnya, ketika hendak bepergian, pilihan pakaian yang terasa sesuai justru terbatas. Kondisi ini dapat diperburuk jika seseorang membeli pakaian tanpa mempertimbangkan koleksi yang sudah dimiliki. Persoalannya bukan selalu kekurangan pakaian, melainkan kesesuaian dan kemudahan memadukannya.

Pakaian Menjadi Bagian dari Identitas Diri

Bagi sebagian orang, pakaian bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sarana mengekspresikan diri dan menunjukkan selera. Keinginan untuk menampilkan citra tertentu dapat membuat seseorang terus mencari model pakaian yang dianggap sesuai dengan dirinya.

Penelitian Marlina Dewi Lestari dan rekan-rekannya berjudul Pengaruh Fashion Consciousne, Materialism dan Fashion Involvement terhadap Keputusan Pembelian Batik oleh Anak Muda di Indonesia 2024 melibatkan 352 responden berusia 15-24 tahun. Hasilnya, kesadaran terhadap mode berpakaian, materialisme, dan keterlibatan terhadap pakaian berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian batik.

Temuan tersebut memperlihatkan, keputusan membeli pakaian dapat berkaitan dengan perhatian terhadap penampilan dan nilai yang dilekatkan pada kepemilikan barang.

Cara Mengatasi Perasaan Tidak Punya Baju

Merasa tidak memiliki pakaian yang cocok tidak selalu harus diatasi dengan berbelanja. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memeriksa kembali isi lemari dan mengelompokkan pakaian berdasarkan jenis serta kegunaannya. Dengan begitu, seseorang dapat mengetahui koleksi yang tersedia dan menemukan pakaian yang sebelumnya jarang digunakan.

Selain itu, cobalah memadukan pakaian dengan cara berbeda sebelum membeli yang baru. Memilih pakaian yang mudah dipadukan juga dapat membantu menciptakan lebih banyak kombinasi dari koleksi yang sudah ada. Saat ingin berbelanja, pertimbangkan apakah pakaian tersebut benar-benar dibutuhkan dan cocok dengan barang lain di rumah. Menunda pembelian ketika hanya tertarik pada tren sesaat juga dapat membantu menghindari pengeluaran yang tidak diperlukan.

Pada akhirnya, memiliki banyak pakaian tidak selalu menjamin seseorang merasa memiliki banyak pilihan. Kesulitan memadukan pakaian, perubahan selera, dan keinginan mengikuti tren dapat berkaitan dengan perasaan tersebut. Karena itu, sebelum menambah isi lemari, ada baiknya memeriksa kembali koleksi yang tersedia dan mencoba kombinasi baru. Dengan mengenali kebutuhan serta memanfaatkan pakaian yang sudah dimiliki, seseorang dapat berpakaian lebih praktis tanpa harus terus membeli baju baru.

Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Self Love Lewat Gaya Berpakaian"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads