Warga Medan Betah Nongkrong Lama di Kafe, Ternyata Ini Alasannya

Warga Medan Betah Nongkrong Lama di Kafe, Ternyata Ini Alasannya

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Selasa, 20 Okt 2026 12:40 WIB
wanita nongkrong di kafe
Foto: Getty Images/staticnak1983
Medan -

Pemandangan kedai kopi yang selalu penuh hingga tengah malam sudah menjadi ciri khas yang tak terpisahkan dari denyut nadi Kota Medan. Mulai dari kedai kopi legendaris di kawasan Kesawan, warkop sederhana di pinggir jalan, hingga coffeeshop estetik di perkotaan selalu dipadati pengunjung.

Menariknya, banyak orang bisa duduk berjam-jam di tempat ini. Bukan sekadar menenggak secangkir kopi, mereka kerap terlihat sibuk berdiskusi, bekerja menggunakan laptop, atau sekadar menatap layar gawai.

Mengapa kebiasaan "nongkrong lama" ini seolah sudah mendarah daging bagi warga urban, khususnya di Medan? Mari menguliknya dari sudut pandang sosiologi perkotaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsep 'Third Place': Kedai Kopi Jadi Rumah Kedua

Secara sosiologis, kebiasaan ini sebenarnya dapat dijelaskan melalui teori yang dipopulerkan oleh seorang sosiolog urban asal Amerika Serikat, Ray Oldenburg, lewat bukunya The Great Good Place. Oldenburg mengenalkan konsep pembagian ruang hidup manusia menjadi tiga bagian utama, First Place (Tempat Pertama): Rumah atau tempat tinggal pribadi. Second Place (Tempat Kedua): Kantor, tempat kerja, atau kampus tempat seseorang menjalankan rutinitas formal. Third Place (Tempat Ketiga): Ruang publik netral di luar rumah dan tempat kerja-dan kedai kopi adalah representasi paling sempurna dari ruang ini.

ADVERTISEMENT

Dalam kajian urban Third Place, kedai kopi berfungsi sebagai jangkar kehidupan komunitas. Di tempat ini, tekanan dari rumah dan beban pekerjaan di kantor sejenak dilepaskan. Seseorang bisa merasa santai, diterima, dan menjadi bagian dari sebuah kelompok sosial tanpa ada tuntutan status formal atau birokrasi yang kaku.

Kebutuhan akan Third Place ini sangat pas dengan karakter warga Sumut yang komunal dan terbuka. Apalagi, orang Medan memang terkenal hobi nongkrong dan menjunjung tinggi kebersamaan lewat secangkir kopi.

Menariknya, kedai kopi mampu meruntuhkan sekat sosial. Siapa pun bisa duduk semeja: dari pengusaha, mahasiswa, pekerja lepas, sampai abang ojol. Suasana santai ini ampuh mencairkan rasa penat dan sepi akibat sibuknya rutinitas kota.

Transformasi Ekonomi, Tempat Ngopi Menjadi 'Co-Working Space' Mini

Pergeseran tren dalam satu dekade terakhir juga memperkuat fenomena ini. Di era gig-economy dan maraknya pekerjaan jarak jauh (remote work), kedai kopi tidak lagi sekadar tempat bersantai di akhir pekan, melainkan bermutasi menjadi ruang kerja alternatif.

Fasilitas seperti Wi-Fi berkecepatan tinggi, colokan listrik yang memadai, dan suasana yang tidak sekaku kantor membuat para pekerja kreatif atau mahasiswa betah berlama-lama. Cukup dengan membeli segelas kopi seharga belasan atau puluhan ribu rupiah, seseorang bisa mendapatkan "kantor sementara" lengkap dengan atmosfer sosial yang menghindarkan dari rasa bosan bekerja seorang diri di kamar kos.

Duduk lama di kedai kopi pada akhirnya bukanlah sebuah tindakan "buang-buang waktu" atau sekadar ikut-ikutan tren. Lebih dari itu, kedai kopi telah bertransformasi menjadi kebutuhan psikologis dan sosial yang esensial bagi warga urban-sebuah suaka kecil di tengah riuhnya kepenatan kota.

Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Fenomena Komunitas Tertutup WNA di Bali, Ada Apa?"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads