Sebuah buku tulis terbuka di atas lantai beralaskan perlak plastik. Di sampingnya, pulpen, beberapa lembar buku pelajaran, dan sebuah ponsel menjadi 'meja belajar' bagi Rafa dan Okta.
Keduanya duduk lesehan di ruangan sempit berukuran 3x4 meter. Di ruangan yang sama terdapat dapur sederhana, tumpukan pakaian, hingga kasur lusuh di ujung ruangan.
Tak ada meja belajar. Tak ada ruang khusus untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, dua siswa kelas 5 SD itu tetap sibuk menyelesaikan PR Bahasa Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesekali, mereka bergantian melirik layar ponsel. Dari sana, keduanya mencari jenis peribahasa yang ditugaskan guru mereka di sekolah. Satu per satu jawaban mulai memenuhi buku tulis.
"Cepat, Ta. Dua nomor lagi siap ini. Main bola abis itu kita," kata Rafa kepada Okta tanpa melepaskan pandangannya dari buku tulis, Jumat (11/9/2026).
Pemandangan sederhana itu berlangsung di sebuah hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang. Sejak awal 2026, tempat itu menjadi rumah bagi Rafa dan Okta setelah banjir bandang pada November 2025 menghancurkan rumah mereka.
Bagi keduanya, bencana itu bukan hanya soal kehilangan bangunan tempat tinggal. Ada halaman rumah yang tak lagi bisa menjadi lapangan bermain.
Ada rutinitas keluarga yang terputus. Ada pula satu hal yang sempat membuat mereka benar-benar terpisah dari dunia luar: jaringan komunikasi.
Ketika tinggal di tenda pengungsian, Rafa, nenek, dan abangnya sempat menjalani hari tanpa akses jaringan maupun internet. Ponsel yang seharusnya menjadi penghubung dengan keluarga justru tak banyak berguna.
"Kangen rumah, biasa main bola di halaman, tapi sekarang sudah beda," ungkap Rafa kepada detikSumut.
Kondisi itu menjadi lebih berat ketika mereka membutuhkan kabar dari keluarga di Medan. Sinyal yang tidak tersedia membuat komunikasi terputus.
"Nggak bisa menelepon keluarga di Medan pas masih di tenda (pengungsian). Nggak ada sinyal. Pernah nenek sakit gara-gara belum bisa neleponin keluarga kami," kata Rafa.
Rafa, nenek, dan abangnya cukup lama menjadi penghuni tenda pengungsian tanpa mampu mengabari keluarga. Karena itu, kabar bahwa mereka akan dipindahkan ke huntara bukan sekadar soal berpindah tempat tinggal.
Huntara menjadi harapan untuk kembali menjalani aktivitas dengan kondisi yang lebih layak.
Sekolah menjadi salah satu rutinitas yang perlahan kembali dijalani. Setelah tinggal di huntara, Rafa dan Okta mulai kembali mengerjakan tugas-tugas sekolah. Keduanya sering belajar bersama dengan menggunakan ponsel pinjaman dari abang Rafa.
Ponsel itu menjadi jendela mereka untuk mencari materi yang tidak ditemukan di buku pelajaran. Rafa juga menggunakannya untuk berlatih soal dengan mengambil bahan dari internet. Aktivitas tersebut dilakukan dengan pengawasan sang abang dan neneknya.
"Cari tugas-tugas, kalau di buku kadang belum nemu jawabannya. Kalau di internet lengkap, nanti abang yang bantu pilihkan," kata Rafa.
Sebelum ada akses WiFi gratis ini, ia mengandalkan paket internet abangnya untuk mencari tugas sekolah. Namun, ia tak bisa terlalu lama lantaran khawatir kuota internet abangnya cepat habis.
"Sebelum ada WiFi pakai kartu paket, tapi enggak bisa buka internet lama-lama soalnya takut kuota abang habis cepat," tuturnya.
Kini, akses WiFi di huntara membuat Rafa dapat mencari materi sekolah lebih leluasa saat mengerjakan PR.
Di ruangan sederhana itu, Farida, nenek Rafa yang berusia 70 tahun, turut mendampingi keduanya. Ia hafal rutinitas cucunya sepulang sekolah, termasuk waktu terbaik menggunakan ponsel milik abangnya.
"Biasa pulang sekolah, makan, terus bersiap ngerjain tugas. Abangnya kan kerja sore, jadi sebelum berangkat dipinjamkannya dulu kalau Rafa ada PR. Nanti abangnya yang sambungkan internet, baru mulailah dia cari PR-nya," kata Farida.
Keterbatasan fasilitas tidak membuat kegiatan belajar berhenti. Tidak ada meja, tidak ada ruang belajar khusus. Yang tersedia adalah lantai, buku tulis, ponsel, dan akses internet.
Bagi Rafa, kombinasi sederhana itu cukup untuk membuat pelajaran tetap berjalan.
Internet juga memiliki fungsi lain bagi keluarga Farida. Setelah televisi mereka hilang terbawa banjir, koneksi internet menjadi salah satu cara untuk mengisi waktu bersama.
Sesekali Farida dan cucu-cucunya menonton acara televisi melalui kanal siaran langsung menggunakan ponsel.
"Kalau abangnya libur kadang nonton sama-sama di handphone. Udah lama enggak nonton, apalagi pas di pengungsian," tuturnya.
Manfaat internet di huntara tidak berhenti di ruang belajar anak-anak. Bagi Dini Amalia, salah seorang penghuni huntara, konektivitas gratis juga membantu menghidupkan kembali usaha kecilnya setelah bencana.
Di depan unitnya, Dini memasang spanduk yang menawarkan jasa pengisian saldo pulsa, saldo dompet digital, hingga token listrik. Usaha tersebut dirintisnya sejak Maret 2026.
Para penghuni huntara menjadi pelanggan Dini untuk mengisi saldo maupun membayar tagihan bulanan. Dalam menjalankan transaksi digital itu, ia memanfaatkan WiFi gratis yang tersedia di lingkungan huntara.
"Internetnya cepat, jadi enggak terganggu lah pas transaksi, ini yang penting kan. Dulu keluar Rp 45 ribu-50 ribu seminggu beli paket data, sekarang gratis," ucapnya.
"Lumayan uang itu bisa dialihkan untuk uang dapur," sambungnya.
Bagi Dini, WiFi gratis bukan sekadar kemudahan. Koneksi tersebut memangkas pengeluaran untuk paket data yang sebelumnya harus disisihkan setiap pekan.
Uang yang biasanya habis untuk membeli kuota kini dapat dialihkan untuk kebutuhan dapur. Di tengah kehidupan setelah bencana yang serba terbatas, penghematan kecil itu memiliki arti.
Internet akhirnya menjadi bagian dari aktivitas warga huntara, dari membantu anak menyelesaikan PR hingga menopang usaha kecil.
Menjaga Koneksi Saat Pemulihan
Cerita Rafa, Okta, Farida, dan Dini memperlihatkan bagaimana konektivitas menjadi kebutuhan yang ikut tumbuh bersama proses pemulihan pascabencana. Di huntara Aceh Tamiang, WiFi telah tersedia sejak awal pembangunan untuk menunjang kebutuhan komunikasi para penghuni.
TelkomGroup membeberkan telah memasang 28 titik akses/Access Point (AP), yang terdiri atas tiga titik di area depan dan 25 titik di sekitar hunian.
"Setiap AP dirancang menjangkau sekitar 3 rumah. Kami juga menyiapkan 1 AP WiFi Managed Service (WMS) berkapasitas 100 Mbps di Posko TelkomGroup Huntara dan dukungan 63 AP WMS yang tersebar di seluruh area," ungkap Vice President Corporate Communication Telkom Andri Herawan Sasoko.
Tantangan teknis pascabencana juga menjadi perhatian. Telkom memperkuat keandalan sinyal di Huntara Tamiang melalui pemanfaatan BTS eksisting, penyiagaan Mobile BTS (Combat), serta dukungan akses internet berbasis satelit Telkomsat dan jaringan serat optik pendukung.
"WiFi gratis ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk tetap terhubung dengan sumber belajar digital, mengakses platform pendidikan, dan berkomunikasi dengan guru di tengah masa pemulihan. Dengan begitu, konektivitas menjadi bagian dari dukungan keberlanjutan agar anak-anak dapat kembali membangun rutinitas belajar secara bertahap selama berada di Huntara," ucapnya.
Upaya tersebut sejalan dengan arah kebijakan besar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam mengawal inklusivitas digital pascabencana.
Bagi pemerintah, komunikasi di wilayah terdampak bencana bukan hanya soal memastikan jaringan tetap hidup. Lebih jauh, konektivitas diharapkan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk anak-anak yang harus tetap mendapatkan akses pendidikan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menuturkan akses internet memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan, mempercepat pemulihan sosial, dan membantu masyarakat terdampak mendapatkan layanan pendidikan.
"Dengan konektivitas yang sudah membaik, kita menginginkan adanya meaningful connectivity, konektivitas yang bermakna. Ini juga yang mencerminkan tagline kita, terhubung, tumbuh, dan terjaga," ucap Nezar dikutip melalui keterangan tertulis.
Menurut Nezar, penguatan konektivitas di wilayah terdampak bencana menjadi komitmen pemerintah untuk memastikan transformasi digital dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Pemerintah ingin memastikan transformasi digital dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat, termasuk menjaga agar proses belajar anak tetap berlangsung meskipun berada di hunian sementara," ucapnya.
Kembali ke ruangan berukuran 3x4 meter itu.
Rafa dan Okta masih bergantian menatap layar ponsel. Mereka memastikan jawaban yang dicari dari internet telah sesuai sebelum ditulis di buku.
Hingga akhirnya, nomor terakhir selesai.
Rafa menutup pencarian di ponsel dan mengembalikannya kepada abangnya. Tak lama kemudian, ia mengambil bola yang tergeletak di sudut ruangan.
PR selesai. Saatnya bermain.
Rafa mengajak Okta keluar menuju area lapangan. Untuk sesaat, buku tulis dan ponsel ditinggalkan.
Banjir memang telah mengubah tempat mereka tinggal. Huntara belum mampu menggantikan rumah yang hilang, apalagi mengembalikan seluruh kebiasaan yang dulu mereka miliki.
Namun, di tengah ruang sempit tanpa meja belajar itu, sebuah koneksi internet membuat sesuatu tetap berjalan.
Pelajaran tetap bisa dicari. Tugas tetap bisa diselesaikan. Komunikasi tetap bisa terjaga. Bahkan usaha kecil warga bisa kembali bergerak.
Bagi Rafa dan Okta, mungkin WiFi itu hanya sebuah jaringan yang membantu menemukan jawaban PR.
Tetapi di tengah masa pemulihan, koneksi tersebut menjadi bagian kecil yang membuat hidup mereka kembali terhubung.
Simak Video "Video: Korban Banjir Aceh Tamiang Terima Dana Tunggu Hunian Rp 1,8 Juta"
[Gambas:Video 20detik] (ksr/dhm)
