Wamenkomdigi Wanti-wanti Bahaya Anak Ketergantungan AI, Ungkap Risikonya

Wamenkomdigi Wanti-wanti Bahaya Anak Ketergantungan AI, Ungkap Risikonya

Agus Tri Haryanto - detikSumut
Minggu, 18 Okt 2026 06:29 WIB
Ilustrasi Anak dengan Gadget atau Ponsel
Foto: Getty Images/iStockphoto/Thawatchai Chawong
Jakarta -

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyoroti risiko penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) secara berlebihan pada anak. Menurutnya, ketergantungan terhadap AI tanpa pendampingan dapat berdampak pada kemandirian serta kemampuan anak dalam berpikir kritis.

"Jangan sampai anak kita menjadi tergantung dengan artificial intelligence sehingga mereka kehilangan kepribadiannya sendiri, mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis. Ini yang saya kira paling berisiko buat generasi kita ke depan," ujar Nezar dikutip detikInet dari siaran pers Kemenkomdigi, Sabtu (17/10/2026).

Nezar mengatakan sekitar 70 juta anak di Indonesia akan menjalani masa tumbuh kembang dalam lingkungan digital yang semakin kompleks. Kehadiran AI menjadi salah satu bagian dari ekosistem tersebut. Karena itu, orang tua dinilai perlu meningkatkan peran dalam mendampingi anak ketika menggunakan teknologi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendampingan diperlukan agar pemanfaatan teknologi digital dapat berlangsung secara aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Selain risiko ketergantungan terhadap AI, anak juga dapat menghadapi sejumlah ancaman lain di ruang digital. Di antaranya adalah berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal, melihat konten yang tidak sesuai dengan usia, terpapar risiko kebocoran data pribadi, hingga mengalami kecanduan terhadap perangkat dan layanan digital.

ADVERTISEMENT

Nezar menilai upaya melindungi anak di ruang digital tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, perusahaan platform digital, dan orang tua perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman.

Menurutnya, peran orang tua dapat dimulai dengan membangun komunikasi terbuka dengan anak, mengetahui aktivitas mereka di dunia digital, serta menggunakan berbagai fitur keamanan yang disediakan platform.

Pemerintah sendiri telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas. Regulasi tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menciptakan ekosistem digital yang lebih aman bagi anak.

"Kita punya tanggung jawab yang cukup besar bagaimana menjamin ruang yang aman dan sehat buat anak-anak kita itu. Itu sebabnya pemerintah membuat PP Tunas dalam rangka membangun ruang aman dan sehat bagi anak di dalam ekosistem digital. Melindungi anak kita adalah melindungi peradaban," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, WhatsApp turut memperkenalkan fitur Parental Control yang ditujukan untuk membantu orang tua mengawasi aktivitas digital anak remaja.

Melalui fitur tersebut, orang tua dapat memperoleh informasi mengenai grup dan kanal yang terhubung dengan akun anak. Orang tua juga dapat mengatur sejumlah opsi terkait konten yang bisa dilihat maupun dibagikan, serta memperoleh pemberitahuan mengenai perubahan tertentu pada akun anak.

Wakil Presiden Business Operations and External Affairs WhatsApp Victoria Grant mengatakan fitur tersebut dibuat untuk membantu meningkatkan keamanan anak tanpa memberikan akses kepada orang tua untuk membaca percakapan pribadi mereka.

"Dengan begitu, tidak ada pengaturan yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan anak Anda. Anda dapat membuka dan mengatur fitur-fitur tersebut bersama-sama," kata Grant.

Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu orang tua memberikan perlindungan kepada anak ketika beraktivitas secara digital, sembari tetap mempertahankan kepercayaan antara orang tua dan anak.

Selain memperkenalkan fitur keamanan, WhatsApp juga menjalankan Kelas Pengasuhan Digital. Dalam program ini, orang tua mendapatkan materi berupa buku saku, video, serta permainan edukatif yang dapat digunakan untuk mempelajari fitur Parental Control bersama anak.

Setelah digelar di Jakarta, program tersebut dijadwalkan berlanjut ke Padang dan Cirebon.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi WhatsApp bersama Kementerian Komunikasi dan Digital, ICT Watch, serta Keluarga Kita. Kolaborasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pengasuhan anak di era digital.

Nezar berharap kerja sama tersebut dapat membantu orang tua memberikan pemahaman kepada anak mengenai pentingnya menjaga data pribadi, menerapkan etika dalam berkomunikasi, serta menggunakan AI secara bijaksana dan kreatif.

Ia juga menekankan bahwa pendampingan orang tua diperlukan agar anak dapat berkembang menjadi generasi yang cerdas, kreatif, inovatif, dan tangguh. Di saat yang sama, aspek keamanan tetap harus menjadi perhatian ketika anak beraktivitas di ruang digital.



(nkm/nkm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads