Pelajaran sejarah kerap dianggap membosankan karena identik dengan hafalan nama tokoh, tanggal, hingga peristiwa masa lalu. Ternyata hal itu tidak selalu benar karena tergantung cara guru yang memberikan materi pembelajaran kepada murid.
Salah satu guru IPS di Medan, Mawaddah, mengatakan siswa justru dapat menunjukkan antusiasme ketika materi sejarah disampaikan dalam bentuk cerita. Terutama saat membahas kisah para tokoh, pahlawan, maupun cerita yang dekat dengan kehidupan mereka.
"Anak-anak sekarang bukannya nggak suka sejarah, tapi tergantung cara penyampaian materi itu gimana ke mereka," kata Mawaddah, Rabu (7/10/2026)
Menurutnya, siswa biasanya mulai kehilangan minat ketika pembelajaran lebih banyak berisi kegiatan menghafal dan mencatat. Kondisi tersebut berbeda ketika guru mengemas materi dengan metode yang lebih interaktif.
"Kalau udah menyangkut sistem hafalan, mencatat, barulah mereka cepat bosan," ujarnya.
Salah satu metode yang diterapkannya adalah membagi siswa dalam beberapa kelompok untuk membuat komik cerita rakyat atau legenda. Siswa kemudian menuangkan cerita tersebut ke dalam gambar dan tulisan di atas karton.
Salah satu cerita yang digunakan adalah legenda Roro Jonggrang. Dari kegiatan tersebut, Mawaddah menemukan masih ada siswa yang belum mengetahui cerita rakyat tersebut. Menurutnya, hal itu menunjukkan pentingnya mendorong minat baca dan kemampuan siswa dalam mencari informasi.
Selain melalui cerita dan proyek, materi sejarah juga dikaitkan dengan persoalan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mawaddah menggunakan contoh kasus untuk mengajak siswa melihat hubungan antara peristiwa masa lalu dengan kondisi saat ini.
Misalnya, ketika membahas kebiasaan masyarakat Indonesia menggunakan atau mengimpor produk dari luar negeri, siswa diajak melihat keterkaitannya dengan sejarah kolonialisme. Dengan cara tersebut, sejarah tidak hanya dipahami sebagai kumpulan peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan kehidupan sekarang.
Cara pembelajaran seperti ini sejalan dengan penelitian Widayati Rahayu dalam Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia yang menyebutkan, siswa dapat menganggap sejarah membosankan ketika pembelajaran terlalu menekankan fakta, tahun, dan tokoh untuk dihafalkan. Pembelajaran sejarah untuk generasi yang dekat dengan teknologi perlu dikemas lebih menarik tanpa menghilangkan substansi sejarah.
Simak Video "Menuju dan Menikmati Keindahan Candi Sojiwan di Jawa Tengah"
(astj/astj)