Ratusan warga Kavling Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), menggelar aksi protes terkait persoalan air bersih. Warga mengeluhkan air yang disebut mati berbulan-bulan dan menduga kondisi tersebut berkaitan dengan pembangunan data center di kawasan Nongsa.
Ketua RT 03 RW 02 Kelurahan Sambau, Andi Lalang, dalam beberapa bulan terakhir, kondisi air mati di wilayah tersebut semakin parah.
"Kalau khusus RT kami, di RT 03 Bakau Serip itu sudah lama yang terdampak. Tapi saya redam saja, warga cukup kalau bisa hidup airnya tiga jam, dua jam, oke, tidak ada masalah," kata Andi saat ditemui dalam aksi, Senin (5/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Andi, warga saat ini kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia menyebut kondisi air bahkan sempat mati total selama berbulan-bulan.
"Karena ini sudah tiga bulan total (mati), enam bulan total ini hidup (sebentar-sebentar), (Sekarang) mati total," ujarnya.
Andi juga menyebut warga menduga ada kaitan antara kondisi air dengan pembangunan data center di kawasan Nongsa. Namun, dia mengakui belum bisa memastikannya.
"Ada kemungkinan besar. Saya tidak pernah mengatakan 100 persen bahwa (air mati akibat) data center. Tapi semenjak berdirinya, dikerjakannya data center ini, kami terdampak total mati," katanya.
Andi mengatakan aksi tersebut dilakukan karena warga merasa persoalan air belum mendapatkan penyelesaian. Dia menyebut warga bahkan meminta dirinya ikut mendampingi aksi.
"Saya dipaksa sama warga harus dampingi demo ini karena sudah tidak tidak bisa bendung warga," katanya.
Menurut Andi, khusus warga RT 03 RW 02, aksi di kawasan tersebut baru pertama kali dilakukan. Namun, persoalan air disebut sudah dirasakan warga. Dia menyebut sekitar 300 warga ikut dalam aksi tersebut.
"Yang ikut aksi ini sekitar 300-an," ujarnya.
BP Batam Bantah
Sementara itu, Deputi Bidang Pengusahaan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Denny Tondano, mengatakan persoalan pasokan air di Nongsa tidak serta-merta disebabkan oleh keberadaan data center.
Dia menjelaskan kondisi pasokan air saat ini dipengaruhi kemarau yang membuat produksi air di wilayah Nongsa turun cukup signifikan.
"Kondisi kemarau ditunjang dengan El Nino ini bukan cuma di Batam yang kesulitan air. Kondisi bendungan kita hari ini memang sudah turun dan produksi memang turun jauh," kata Denny.
Menurut Denny, produksi air untuk wilayah Nongsa yang biasanya mencapai sekitar 90 liter per detik (LPS), kini hanya sekitar 25 LPS.
"Biasanya di Nongsa ini kita produksi 90 liter per detik. Hari ini kita tinggal memproduksi kurang lebih 25 liter per detik," ujarnya.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan air di Nongsa, BP Batam saat ini melakukan dukungan pasokan dari Waduk Duriangkang menggunakan booster.
"Saat ini Nongsa ini didukung dari Duriangkang," kata Denny.
Terkait dugaan warga bahwa kebutuhan data center mengambil pasokan air dari Duriangkang, Denny membantah hal tersebut. Dia menegaskan tidak ada pasokan dari Duriangkang yang dialirkan untuk kebutuhan data center.
"Duriangkang tidak ada yang masuk ke data center," tegasnya.
Denny juga menjelaskan kawasan Nongsa Digital Park (NDP) tidak seluruhnya merupakan data center. Di dalam kawasan tersebut terdapat berbagai fasilitas dan aktivitas lain yang sudah ada sejak sebelumnya.
"Kalau namanya NDP itu bukan data center. Kawasan NDP ini ada namanya Nongsa Point, ada namanya macam-macam segala macam itu," jelasnya.
Dia mengatakan sejumlah data center yang sudah beroperasi juga tengah menyiapkan sistem pengolahan air sendiri.
"Mereka semua sedang menyiapkan SWRO," katanya.
Selain itu, Denny menyebut terdapat pengolahan air mandiri di kawasan industri yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional.
Denny mengatakan kebutuhan air data center yang sudah beroperasi tidak mengambil pasokan dari Duriangkang. Dia menyebut salah satu kawasan memiliki sistem pengolahan air sendiri.
"Di situ mereka ada pengolahan sendiri. Cukup besar produksinya, itu yang mereka pakai untuk saat ini," ujarnya.
Dia juga menanggapi informasi mengenai adanya pasokan sekitar 160 LPS dari Duriangkang ke kawasan data center.
"Kalau saya bilang 160 LPS, mungkin saya tahu persis berapa yang terkirim. Tidak mungkin 160 LPS saya berkirim dari sana. Itu nggak ada," kata Denny.
Terkait keluhan warga Kampung Sambau, Denny mengatakan BP Batam akan mengecek jaringan dan sumber aliran air ke masing-masing wilayah.
Menurutnya, kondisi distribusi air dapat berbeda meski lokasi permukiman berdekatan. Dia mencontohkan ada wilayah RT yang masih mendapatkan aliran air sementara RT lainnya tidak.
"Nanti kita akan cek dari mana sumbernya. Maka tadi contoh, beda RT saja ada beda aliran. Barusan kan disampaikan, RT 3 ngalir, RT 4 tidak ngalir. Nah, itu yang akan kita cek alirannya seperti apa," ujarnya.
Denny mengatakan terdapat sejumlah wilayah yang mengalami tekanan distribusi air, termasuk kawasan yang berada di lokasi lebih tinggi. BP Batam kini berupaya memperbaiki distribusi dengan dukungan pasokan dari Duriangkang.
"Hari ini yang dukungannya paling kuat adalah Duriangkang. Duriangkang itu yang sedang kita dorong ke mana-mana sekarang," katanya.
Denny mengatakan kondisi enam waduk di Batam secara umum masih cukup aman. Waduk Duriangkang, Sungai Ladi, Muka Kuning, dan Tembesi disebut masih aman, sementara Waduk Sungai Harapan masih dapat bertahan beberapa bulan.
"Yang tinggal Nongsa yang memang kecil. Kecil airnya dan itu yang kita support dari Duriangkang hari ini," ujarnya.
BP Batam mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat di tengah kondisi kemarau.
"Mari kita sama-sama sampaikan dengan masyarakat bahwa hari ini kondisi kemarau, kondisi air lagi sulit. Walaupun kita masih cukup aman untuk di Batam, ayo kita pakai dengan hemat, kita pakai bijak, terus satu lagi kita jaga lingkungan," Ujarnya.
