Gelombang protes besar-besaran terjadi di berbagai kota salah satu negara Amerika Tengah, Honduras, akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Massa memblokade sejumlah ruas jalan sebagai bentuk ketidakpuasan atas naiknya harga BBM.
"Para pengunjuk rasa memblokir jalan-jalan dan jalan raya serta membakar ban, menyerukan diakhirinya kenaikan harga bahan bakar," tulis surat kabar lokal El Heraldo, dikutip detikFinance dari Anadolu Agency, Sabtu (3/10/2026).
Untuk diketahui, kenaikan harga BBM di Honduras terjadi secara berturut-turut dalam 11 minggu terakhir. Artinya, dalam kurun hampir tiga bulan harga BBM di Honduras terus mengalami kenaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai contoh, harga bensin premium terakhir di Tegucigalpa, ibu kota negara itu, telah naik 4,87 lempira atau sekitar US$ 0,18 per galon menjadi 153,17 lempira atau US$ 5,71. Sedangkan harga bensin biasa terakhir kali meningkat 2,45 lempira atau US$ 0,09 jadi 135,26 lempira atau US$ 5,04.
Jika dihitung maka harga bensin premium di ibu kota Honduras ini setara dengan Rp 26.977 per liter (kurs Rp 17.882). Sementara harga bensin biasa sekitar Rp 23.881 per liter.
Padahal pemerintah Honduras telah meningkatkan subsidi bahan bakar sementara dari 65% menjadi 70% untuk meminimalisir kenaikan harga BBM. Namun, menurut Sekretariat Energi Honduras langkah ini tidak bisa mencegah kenaikan lebih lanjut di tingkat konsumen imbas kenaikan harga energi global.
Di luar itu, pemerintah juga terus mempertahankan subsidi untuk beberapa produk bahan bakar lainnya dalam upaya membatasi dampak kenaikan harga energi global terhadap masyarakat. Salah satunya harga LPG domestik tidak berubah berkat diberikannya subsidi sementara, sementara harga LPG untuk kendaraan bermotor masih meningkat.
Artikel ini telah tayang di detikFinance, baca selengkapnya di sini
