Hari Batik Nasional jadi momentum mengenalkan kekayaan motif batik di berbagai daerah, termasuk Sumut. Di Sumut, ada ratusan ornamen dari berbagai etnis mulai diangkat menjadi motif batik untuk menjaga warisan agar tidak hilang.
Pengrajin batik sekaligus pemilik butik Langgam Evi Amroeni mengungkapkan dirinya telah mendatangi seluruh kabupaten di Sumut untuk mengumpulkan berbagai ornamen khas daerah. Ornamen tersebut ditemukan dari rumah adat hingga benda tradisional.
"Saya sendiri sedang mengumpulkan ornamen-ornamen dan penelitian ke daerah-daerah. Semua kabupaten saya kunjungi untuk mengumpulkan ornamen itu melalui rumah adat dan benda benda pakai," ungkap Evi kepada detikSumut, Jumat (2/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Evi, pengangkatan ornamen ke kain batik bukan hanya bertujuan menciptakan wastra khas Sumut, namun juga cara menyelamatkan budaya yang terancam hilang.
"Kalau bangunan runtuh, ornamen juga runtuh dan hilang, rugi dua kali kita. Kalau ornamennya kita angkat dan pindahkan ke kain, selain ornamennya lestari namun juga memperkenalkan motif Sumut ke luar daerah," ujarnya.
Sebagai contoh, Evi menyebut di etnis Melayu ada ratusan motif seperti pucuk rebung, lebah bergantung, semut beriring, itik pulang petang, dan masih banyak lagi. Ia menilai ratusan motif dari tiap etnis punya keunikan apabila dapat dieksplor lebih dalam.
"Baru Melayu saja ada ratusan motif dan belum semuanya saya eksplor, masih beberapa motif. Kemudian Batak Toba dengan Gorga Dalihqn natolu, Gorga Sitompi dan sebagainya, itu juga banyak sekali," kata Evi.
"Jadi tinggal kita tuang ke kain, itu kain bermakna dan ada storytellingnya di situ," lanjutnya.
Tak hanya motif, Evi menyebut teknik membatik tulis juga memiliki filosofi. Ia mencontohkan teknik mencanting dari dalam ke luar yang dimaknai sebagai hubungan manusia dengan sesama.
Sementara teknik mencanting dari atas ke bawah dimaknai sebagai hubungan antara Tuhan dengan manusia.
Menurutnya, budaya membatik di sejumlah daerah di Jawa sudah mengakar kuat bahkan menjadi bagian dari pembelajaran muatan lokal. Sementara di Sumut, budaya membatik dengan mengangkat ornamen daerah masih perlu ditingkatkan.
"Di Sumut memang sedikit agak kompleks, selain melestarikan ornamen Sumut, budaya membatik itu harus diciptakan," kata Evi.
Dia menegaskan bahwa batik bukan hanya milik suatu daerah namun bagian dari budaya Indonesia yang dapat dikembangkan sesuai kekayaan masing masing daerah.
"Sekarang batik adalah Indonesia, batik bukan hanya Jawa namun juga Indonesia," ucapnya.
Dalam peringatan Hari Batik Nasional ini, Evi juga melakukan live show membatik dan juga fashion show di salah satu hotel di Medan. Ia menyebut kegiatan ini dapat terus menumbuhkan rasa bangga terhadap batik.
"Ini bentuk kepedulian dalam melestarikan batik ya semoga kedepannya banyak yang akan membuat aktivitas agar batik ini semakin eksis," pungkas Evi.
Simak Video "Video: Cara Diaspora Indonesia di Tunisia Peringati Hari Batik Nasional "
[Gambas:Video 20detik] (ksr/mjy)
