Krisis air bersih masih dialami warga Desa Tuanggeo, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi tersebut telah berlangsung selama sekitar tiga pekan dan membuat warga terpaksa mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu upaya yang dilakukan warga yakni memanfaatkan air yang keluar dari batang pisang. Warga Desa Tuanggeo, Nestor Langga, mengatakan batang pisang dipotong terlebih dahulu. Setelah itu, sebilah bambu dipasang pada bagian batang yang telah dipotong untuk mengalirkan air yang keluar.
"(Krisis air) sudah dua tiga minggu ini. Satu hari paling dua sampai tiga liter," ujar Nestor Langga, dihubungi detikBali, Selasa (29/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Nestor, air yang diperoleh dari batang pisang tersebut digunakan warga untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mandi, mencuci hingga memasak. Namun, air tersebut memiliki rasa yang kurang enak karena terasa sepat dan sedikit pahit.
"(Rasanya) sepat juga. Untuk mandi dan cuci, bisa juga untuk masak," imbuhnya.
Nestor menyebut hingga kini belum ada bantuan pasokan air bersih yang diterima warga Desa Tuanggeo di tengah krisis tersebut.
Sementara itu, Bupati Sikka Yuventus Prima Yoris Kago yang dihubungi detikBali belum memberikan respons hingga berita ini ditulis.
Sebelumnya, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) pernah berkunjung dan menginap di Palue dalam rangkaian safari politik sekaligus meninjau kondisi korban gempa Flores beberapa waktu lalu.
Dalam kunjungan tersebut, warga sempat menyampaikan keluhan kepada Jokowi mengenai kebutuhan fasilitas penyulingan air laut agar dapat diolah menjadi air tawar.
