5 Kesalahpahaman soal Penyakit Ginjal, dari Cuci Darah hingga Banyak Minum

5 Kesalahpahaman soal Penyakit Ginjal, dari Cuci Darah hingga Banyak Minum

Elmy Tasya Khairally - detikSumut
Sabtu, 26 Sep 2026 05:00 WIB
Ilustrasi ginjal
Foto: Getty Images/sasirin pamai
Jakarta -

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) dapat terjadi dalam beberapa tahapan, mulai dari kerusakan ginjal pada tahap awal dengan fungsi yang masih relatif terjaga hingga kondisi gagal ginjal stadium lanjut.

Penyakit ini juga kerap berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Seseorang bahkan bisa mengalami gangguan fungsi ginjal selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya sampai penyakit memasuki tahap yang lebih parah.

Karena itu, sejumlah anggapan mengenai penyakit ginjal perlu diluruskan. Pemahaman yang tepat dapat membantu seseorang mengenali kondisi tersebut lebih dini dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut lima anggapan yang sering keliru mengenai penyakit ginjal kronis:

1. Penyakit Ginjal Berarti Harus Cuci Darah

Ketika mendengar diagnosis penyakit ginjal, sebagian orang langsung menganggap pasien pasti membutuhkan cuci darah atau dialisis. Padahal, tidak semua orang yang mengalami penyakit ginjal harus menjalani prosedur tersebut.

ADVERTISEMENT

Dilansir detikHealth dari Times of India, penyakit ginjal kronis diklasifikasikan ke dalam sejumlah stadium berdasarkan fungsi ginjal dan indikator lainnya. Pada stadium 1, misalnya, seseorang dapat memiliki tanda kerusakan ginjal meski nilai eGFR masih berada di angka 90 atau lebih.

Sebaliknya, stadium 5 ditandai dengan eGFR di bawah 15 dan menunjukkan kondisi gagal ginjal. Dialisis maupun transplantasi ginjal diperlukan ketika fungsi ginjal sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan penting tubuh secara memadai.

Dengan demikian, pasien yang baru mengalami penyakit ginjal pada stadium awal tidak dapat disamakan dengan pasien yang sudah mengalami gagal ginjal.

"CKD (Chronic Kidney Disease/penyakit ginjal kronis) tidak selalu berarti gagal ginjal," kata konsultan nefrologis di CK Birla Hospital India, dr Vikram Kalra.

2. Tidak Ada Keluhan Berarti Ginjal Sehat

Tidak merasakan keluhan bukan berarti kondisi ginjal pasti normal. Pada tahap awal, penyakit ginjal kronis justru sering tidak menimbulkan gejala yang mudah dikenali.

Hal tersebut membuat seseorang bisa saja baru mengetahui adanya gangguan ginjal setelah penyakit berkembang lebih jauh.

Pemeriksaan darah dan urine dapat menjadi cara untuk mendeteksi gangguan ginjal, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.

"Penyakit ginjal cenderung berkembang tanpa disadari, terutama pada fase awalnya," kata dr Kalra.

Spesialis ginjal, dr Anupam Roy, menyarankan orang dengan faktor risiko seperti diabetes dan tekanan darah tinggi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Pemeriksaan tersebut dapat mencakup tes darah, termasuk pengukuran kreatinin serum, serta tes urine. Hasilnya dapat memberikan gambaran mengenai kondisi dan fungsi ginjal.

3. Banyak Minum Air Bisa Menyembuhkan Penyakit Ginjal

Air putih memang memiliki peran penting dalam menjaga hidrasi tubuh dan mendukung fungsi ginjal. Namun, anggapan bahwa memperbanyak minum air dapat menyembuhkan penyakit ginjal kronis tidak sepenuhnya benar.

Penyakit ginjal tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya asupan cairan. Karena itu, memenuhi kebutuhan cairan tidak dapat menggantikan pengobatan untuk mengatasi kerusakan ginjal kronis.

Bahkan, kebutuhan cairan setiap pasien penyakit ginjal bisa berbeda. Jumlah yang sesuai perlu mempertimbangkan fungsi ginjal, kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta penyakit atau kondisi medis lain yang dialami.

"Hanya dengan minum air saja tidak akan menyembuhkan cedera ginjal kronis," kata dr Kalra.

Menurutnya, kebutuhan cairan seseorang tidak selalu sama. Pasien penyakit ginjal kronis membutuhkan penanganan berdasarkan penyebab serta stadium penyakitnya, sehingga terapi tidak cukup hanya mengandalkan konsumsi air.

4. Penyakit Ginjal Hanya Berdampak pada Ginjal

Ginjal mempunyai berbagai fungsi penting bagi tubuh. Ketika fungsi organ tersebut mengalami penurunan, dampaknya juga dapat dirasakan pada sistem tubuh lainnya.

Penyakit ginjal kronis diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Gangguan fungsi ginjal juga dapat berpengaruh terhadap tekanan darah, produksi sel darah merah, serta keseimbangan berbagai mineral seperti kalsium, kalium, dan fosfor.

Dr Kalra menjelaskan, penyakit ginjal kronis dapat berdampak pada sistem kardiovaskular, tulang, hingga keseimbangan mineral dalam tubuh.

Dampak tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pengendalian penyakit yang menjadi faktor risiko, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, penting dalam menjaga kesehatan ginjal.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga menyebut pengelolaan faktor risiko dapat membantu mencegah atau memperlambat perkembangan penyakit ginjal kronis beserta komplikasinya.

5. Tidak Ada yang Bisa Dilakukan Setelah Terdiagnosis PGK

Diagnosis penyakit ginjal kronis bukan berarti tidak ada lagi langkah yang dapat dilakukan. Menurut dr Roy, pengobatan dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit secara signifikan, bergantung pada penyebab dan stadium penyakit.

Dr Kalra menjelaskan bahwa penanganan PGK tidak hanya mengandalkan obat. Pasien juga dapat membutuhkan perubahan pola makan, aktivitas fisik, pengendalian tekanan darah dan diabetes, berhenti merokok, serta pemantauan kondisi secara berkala.

Penting pula membedakan penyakit ginjal kronis dengan penyakit ginjal akut. Penyakit ginjal kronis merupakan kondisi kerusakan atau penurunan fungsi ginjal yang berlangsung menetap, sedangkan penyakit ginjal akut ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara tiba-tiba.

Pentingnya Pemeriksaan Rutin

Karena PGK pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu cara penting untuk mendeteksi kondisi tersebut.

Orang yang memiliki risiko lebih tinggi, terutama mereka yang mengalami diabetes atau tekanan darah tinggi, disarankan memperhatikan kesehatan ginjal dan menjalani pemeriksaan secara rutin.

Deteksi lebih awal memberikan kesempatan yang lebih besar untuk menangani penyebabnya, menjaga fungsi ginjal yang masih tersisa, serta memperlambat perkembangan penyakit.



(nkm/nkm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads