Seorang warga, Saul (25) menceritakan pengalamannya saat melihat fenomena hujan es yang terjadi di Kota Medan. Saul mengaku tak menyangka saat itu terjadi hujan es. Ia sadar karena suara atap (seng) di bengkel yang berbeda dari hujan biasa.
"Pertama tuh awalnya gak hujan es, awalnya hujan air biasa dibarengi dengan angin. Tapi 10 menit setelah dari itu tuh baru mulai kerasa kan kok suara sengnya beda, kayak ada dilempar-lempar batu gitu kan. Nah kita perhatiin lah betul-betul yang butuh kita perhatiin nah rupanya dibarengin sama es batu hujannya," ujar Saul saat diwawancarai, Rabu (23/9/2026).
Dikatakan Saul, saat kejadian dirinya sedang berada di bengkel milik seorang teman. Ia menyebut, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 15.30 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau nggak lupa kejadiannya itu di Johor khususnya di Jalan Karya Jaya. Nah itu sekitar jam setengah empat kurang lebihnya setengah jam lah non-stop tuh hujan es batu yang memang betul-betul terdengar tuh suara di seng "tak tak tak tak"," katanya.
Menurut Saul, ukuran bongkahan es yang turun bervariasi dari kecil hingga besar. Namun ia mengatakan, tidak ada kerusakan rumah ataupun kendaraan akibat hujan es tersebut.
"Es batunya ada yang besar kecil variasi sih, ada yang kecil ada yang besar juga," katanya.
Saul mengatakan, fenomena hujan es tersebut berlangsung sekitar 15 menit. Ia mengaku baru pertama kali melihat langsung fenomena tersebut.
"Iya ini pertama kali melihat yang begini. Tadi hujan esnya mungkin sekitar 15 menit, karena durasi hujannya kalau khusus yang di tempat aku tadi berhenti itu kurang lebih setengah jam," pungkasnya.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Hendro Nugroho membenarkan terjadi hujan es di sebagian wilayah Medan.
Ia menyebut bahwa fenomena hujan es ini biasanya terjadi dari awan Kumulonimbus.
"Berdasarkan data pengamatan dari BBMKG Wilayah I sekitar pukul 15.20 WIB, terjadi hujan lebat di sebagian wilayah kota Medan yang disertai dengan angin cukup kencang mencapai 19knot," kata Hendro, Rabu (23/9/2026).
Hujan es kali ini disebutnya terjadi dengan beberapa ciri yang dapat diamati. Antara lain sebelum hujan, langit cepat berubah menjadi gelap/pekat.
Lalu angin tiba-tiba menguat dan berubah arah.
"Pada jam 15.00 WIB pengamatan angin calm, dan kemudian pada jam 15.30 berubah menjadi 19knot. Suhu udara terasa lebih dingin secara tiba-tiba," ungkap Hendro.
Pada jam 15.00 WIB, suhu berubah. Dari 32.6 derajat Celcius menjadi 26 derajat Celcius. Turunnya hujan dinilai sangat deras dalam waktu relatif singkat.
"Berdasarkan citra radar Medan tampak potensi hujan lebat di sekitar Medan Johor dan sekitarnya," tuturnya.
Saat ini berdasarkan analisis angin, di wilayah Sumatera Utara terdapat konvergensi dan belokan angin khususnya di pesisir timur.
"Labilitas udara juga cukup labil sehingga potensi munculnya awan-awan hujan cukup tinggi," jelasnya.
