Rumah Lansia yang Hampir Ambruk di Belawan Tak Bisa Dibangun Pakai APBD

Rumah Lansia yang Hampir Ambruk di Belawan Tak Bisa Dibangun Pakai APBD

Rechtin Hani Ritonga - detikSumut
Selasa, 22 Sep 2026 22:41 WIB
Nek Mek (73), lansia yang tinggal di rumah yang hampir ambruk di Kecamatan Medan Belawan.
Nek Mek (73), lansia yang tinggal di rumah yang hampir ambruk di Kecamatan Medan Belawan. (Foto: Rechtin Hani Ritonga/detikSumut)
Medan -

Rumah lansia yang akrab disapa Nek Mek atau Miah (73) yang hampir ambruk di Kecamatan Medan Belawan tak bisa dibangun menggunakan APBD Kota Medan.

Hal ini lantaran lahan tempat berdirinya rumah Nek Mek merupakan milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).

"Karena itu rumah Nenek Mek itu kan dia berada di atas lahan Pelindo. Jadi kalau (pakai anggaran) Pemko itu enggak bisa," ujar Camat Medan Belawan, Robby Kurniawan saat diwawancarai, Selasa (22/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Robby mengatakan, pihaknya bersama pemangku kepentingan lainnya di Medan Belawan sepakat untuk mengumpulkan uang pribadi untuk membantu membangun rumah Nek Mek.

"Jadi itulah, kesepakatan kita dari Muspika bersama Pak Wali Kota. Muspika itu terdiri dari Koramil, Polsek, dan Pomal. Karena kita ada beberapa stakeholder di Belawan, turut prihatin. Ya udah kita bersama-sama kita patungan, Pak Wali pun pribadi dia tuh, bukan Pemko, karena enggak bisa Pemko. Karena tanahnya tanah lahan Pelindo, enggak bisa," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Robby uang dari hasil urunan tersebut akan membangun rumah Nek Mek dengan lebih layak. Saat ini, kata dia, pihaknya tengah membeli beberapa bahan bangunan yang dibutuhkan.

"Sudah kita bersihkan, kita bangun balik. Yang mengerjakan, itulah Kepling, gotong royong. Kecamatan, Polsek, Koramil, dari Pomal juga gotong royong mengerjakannya sama warga. Jadi kan kita enggak bayar-bayar biaya upah, namun bahan-bahannya kita belikan. Itulah supaya makin kompak Belawan itu," kata Robby.

Robby menyebut, Nek Mek saat ini dipindahkan sementara ke rumah tetangganya. Ia menaksir proses pembangunan rumah tersebut akan memakan waktu sekitar satu minggu.

"InsyaAllah (satu minggu). Kan nanti kita pakai cor itu tapak rumahnya supaya kuat. Jadi enggak kayu gitu. Model rumah pinggir laut kan harus pakai kaki itu, kaki itu cor pakai pipa, pakai besi lagi," ungkapya.

Robby berharap tidak ada lagi warga Belawan yang hidup di rumah yang hampir ambruk seperti Nek Mek. Ia ingin warga di ujung utara Kota Medan tersebut memiliki kondisi hidup yang layak.

"Saya pun berharap jangan ada lagi orang Belawan yang nasibnya seperti ini. Kalau bisa maju orang Belawan," ungkapnya.

Sementara itu, terkait Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Nek Mek yang terhambat untuk menerima bantuan karena terlibat pinjaman online (pinjol), Robby mengatakan hal itu merupakan kebijakan dari Kementerian Sosial.

Robby menyebut, saat ini pihaknya tengah memproses agar KTP Nek Mek bisa didaftarkan kembali sebagai penerima bantuan sosial (bansos).

"Jadi gini, masyarakat itu kadang-kadang kan enggak tahu dia, KK-nya dipinjam, KTP dipinjam, tahu-tahu untuk judol, untuk pinjol. Itu enggak boleh, memang itu aturan dari Kementerian Sosial, bukan dari kita," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, video Miah (73) atau lebih dikenal dengan Nek Mek warga Lingkungan 26, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan beredar di media sosial lantaran rumahnya yang hampir ambruk.

Rumah tersebut hampir ambruk karena cuaca ekstrem dan hujan deras.

"Kemarin waktu hujan, petir besar itu. Rumah inikan ada lotengnya, yasudah yang atas itu semua roboh ke bawah. Nenek masih di bawah, lagi bebaring. Ya terkejut karena jatuh kayu-kayunya semua ke bawah," ujar Nek Mek saat ditemui di kediamannya, Kamis (17/9/2026).

Dalam video yang beredar tersebut, rumah Nek Mek tampak amblas di bagian atas dan menimpa bagian bawahnya. Warga sekitar terlihat membantu membereskan runtuhan kayu-kayu di bagian atas rumah.

Dari amatan detikSumut pada Kamis (17/9/2026), rumah Nek Mek kini tampak miring ke samping dan hampir ambruk.

Puing-puing kayu bekas loteng di rumah Nek Mek bagian atas telah dibereskan. Kini yang tersisa hanya bagian rumah di lantai bawah dan atap yang ditutupi barang-barang bekas seperti kasur lipat dan terpal.

Nek Mek bercerita kejadian rumahnya ambruk terjadi sekitar dua hari yang lalu yakni pada Selasa (15/9/2026). Saat itu ada angin kencang disertai petir.

"Perasaan Nenek ya, macam manalah ya, mau dibangun enggak ada uangnya. Apa adanya ajalah. Tahan jugalah Nenek kemarin untung juga tidak jebol ke bawah kenalah Nenek, orang Nenek kan enggak bisa berdiri, enggak bisa lari. Terpaksa merangkak-rangkaklah, lama-lama keluar jugalah, bisa keluar (dari rumah)," katanya.

Nek Mek menyebut, dirinya sudah tinggal di rumah tersebut sekitar 20 tahun. Rumah ini merupakan peninggalan keluarga almarhum suaminya.

"Waktu itu abang ipar sakit, dia pisah dengan istrinya. Jadi minta almarhum suami Nenek untuk menjaganya, pesannya kalau dia sudah meninggal rumah ini untuk suami Nenek," ungkap Nek Mek.

Sejak kejadian rumahnya yang hampir ambruk, Nek Mek mengaku tidak merasa aman untuk tidur di rumah. Namun karena keterbatasan kondisi, dirinya beserta anak dan cucunya terpaksa tetap tidur di rumah.

"Sempat juga nyewa di tempat tetangga karena kondisi rumah sudah enggak layak. Tapi duitnya kan pas-pasan, jadi ya mau gak mau tetap harus di sini juga (tidurnya)," ujarnya.

Nek Mek bercerita, suaminya yang bekerja sebagai nelayan meninggal sekitar 25 tahun yang lalu karena tersambar petir saat melaut.

Sejak suaminya meninggal, Nek Mek mengaku bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Itu kadang sedekah, orang ada sedekah (untuk makan). Kalau anak tuh ada sikit-sikit nanti kasih juga. Ya duitnya untuk bayar listrik, kalau ada sisa baru untuk masak. Terkadang adapun tak makan Nenek sampai 3 hari, 2 hari. Ya biasalah, kalau Nenek ini tak makan 2 hari, 3 hari sudah biasa," katanya.

Nek Mek mengaku khawatir dengan kondisi rumahnya yang hampir ambruk. Ia berharap pemerintah memberikan bantuan untuk memperbaiki kondisi rumahnya tersebut.

"Ya kalau khawatir pasti ada, kalau hujan atau angin lagi terus ambruk ke bawah macam mana. Itulah yang ditakutkan. Kalau berharap dibantu ya pasti, tapi kan kita meminta, kalau ada ya dibantu, kalau enggak ada ya gimana namanya kita meminta," ungkapnya.

Bantuan Terputus Karena Pinjol

Nek Mek menyebut bantuan yang biasa ia terima dari pemerintah terputus lantaran KTP nya dipakai untuk pinjaman online (pinjol).

"Waktu itu anak saya pakai untuk ambil duit 200 ribu katanya, sudah butuh kali untuk kebutuhan kami juga. Saya bilang yasudah pakailah. Saya enggak tahu namanya apa, tapi gara-gara itu jadi enggak dapat lagi bantuan," katanya.

Anak Nek Mek, Mariani (52) mengatakan saat ini pihak Program Keluarga Harapan (PKH) tengah mengurus agar bantuan tetap bisa diproses.

"Cuma kemarin dari PKH katanya sudah diurus dan sedang proses," ungkap Mariani.



(nkm/nkm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads