Bagi Sukamto, menanam mangrove bukan sekadar menancapkan bibit ke lumpur lalu membiarkannya tumbuh sendiri. Ada pekerjaan yang jauh lebih panjang setelahnya. Bibit yang mati harus diganti, tanaman yang tumbuh harus dirawat, dan kawasan yang mulai menghijau harus dijaga agar kembali menjadi rumah bagi kehidupan di pesisir.
Sukamto bersama Kelompok Tani Nelayan Mandiri terlibat dalam rehabilitasi kawasan mangrove seluas 28 hektare di pesisir Desa Sei Tuan, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Sebanyak 101.640 bibit mangrove jenis Rhizophora ditanam di kawasan tersebut.
Tim detikSumut pun berkesempatan ikut menanam bibit mangrove bersama Sukamto dan tim M4CR dalam kegiatan Media Visiting M4CR PPIU Sumatera Utara di Deli Serdang. Bibit setinggi sekitar 20-25 sentimeter dengan empat helai daun itu ditancapkan satu per satu ke tanah yang lembek dan berlumpur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekali melangkah, kaki terasa amblas ke dalam lumpur basah yang menempel hingga membuat langkah harus dilakukan dengan hati-hati. Setelah bibit ditancapkan, batangnya kemudian diikat pada kayu agar tidak mudah terbawa arus ketika air pasang.
Bagi Sukamto, proses seperti itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya menjaga kawasan mangrove.Ia masih ingat ketika kawasan tersebut pernah berada dalam kondisi gundul. Lahan mangrove yang seharusnya menjadi benteng pesisir itu sempat dirambah dan dimanfaatkan untuk kepentingan lain, termasuk dijadikan lahan sawit.
"Dulunya wilayah ini sudah gundul dan kami memilih rehabilitasi hutan di Desa Sei Tuan yang dulunya dirambah pengusaha seperti dijadikan lahan sawit. Sampai saat ini kami terus melakukan pembibitan dan berkegiatan," ujar Sukamto, Kamis (17/9/2026).
Perlahan, wajah kawasan itu berubah. Mangrove yang ditanam mulai tumbuh dan kawasan tersebut kembali menjadi habitat bagi berbagai biota perairan, di antaranya kepiting bakau.
Kepiting yang mulai bermunculan di sekitar mangrove menjadi salah satu tanda bagi Sukamto bahwa kehidupan di kawasan tersebut ikut kembali. Akar-akar mangrove yang tumbuh menjadi bagian dari ekosistem tempat berbagai biota berkembang.
Bagi kelompok tani, keberadaan kepiting juga memiliki arti lain. Biota tersebut kini bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menambah penghasilan.
Satu di antaranya ada Sugiono yang sehari-hari mencari kepiting bakau di sekitaran mangrove. Ia bercerita mampu mendapatkan 8 kilogram kepiting bakau saat air pasang.
"Kalau air lagi pasang bisa sampai 8 kilo per hari dapatnya, keluar sendiri kepitingnya itu nanti baru lah kita ambil. Nanti kita jual ke agen, biasanya Rp 50 ribu per kilogram. Tapi ya enggak setiap hari. Kalau lagi pasang mati paling 1-3 kilo lah. Kalau enggak dapat di sekitar mangrove kita cari di lautnya," jelas Sugiono.
Selain Sugiono, para kelompok tani lainnya juga kini mampu menambah pendapatan dengan menjual bibit mangrove. Biasanya, 1 bibit mangrove dijual Rp 1.000 per batang.
"Kita jual bibit-bibit mangrove. Kita masukkan ke polybag dan kita urus sampai jadi tangkai gitu lah. Lumayan lah untuk nambah kebutuhan dapur," ujar Sumiyati, anggota kelompok tani lainnya.
Bagi masyarakat setempat, mungkin ini jadi salah satu alasan mengapa bibit-bibit kecil itu harus terus dijaga. Mangrove yang tumbuh bukan hanya mengembalikan hijau di pesisir Sei Tuan, namun juga mengembalikan ruang bagi kehidupan yang bergantung padanya.
Sementara itu, Kepala Desa Sei Tuan Parngingotan Marbun turut mengakui perjuangan masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian hutan mangrove. Namun begitu, ia berupaya agar masyarakat dapat menambah nilai ekonomis dari alam mangrove tanpa merusak habitatnya.
Parngingotan tidak ingin kawasan mangrove yang telah dipulihkan hanya berhenti sebagai hamparan hijau. Menurutnya, kawasan tersebut juga harus bisa memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat yang selama ini ikut merawatnya.
Salah satu gagasan yang diajukan yakni membuat parit secara terbatas di setiap kawasan seluas 10 hektare. Parit tersebut diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi perikanan tanpa mengganggu keberadaan mangrove.
Untuk merealisasikan gagasan itu, Parngingotan mengaku telah meminta izin kepada pemerintah pusat. Pekerjaan tersebut membutuhkan alat berat sehingga pelaksanaannya tidak bisa dilakukan sembarangan.
Ia meyakini pembuatan parit tetap dapat dilakukan tanpa mematikan mangrove yang telah tumbuh. Bagi Parngingotan, ruang perairan di antara kawasan mangrove dapat menjadi tambahan sumber penghasilan bagi kelompok tani. Ia membayangkan masyarakat tidak hanya menjaga kawasan, tetapi juga mendapatkan manfaat langsung dari ekosistem yang mereka rawat.
Program M4CR Bantu Kelompok Tani Mangrove
Perjuangan rehabilitasi mangrove yang dilakukan Sukamto bersama kelompok tani lainnya semakin kuat dengan hadirnya Mangrove for Coastal Resilience (M4CR). Program ini berfokus kepada rehabilitasi ekosistem mangrove, peningkatan potensi ekonomi pesisir, maupun membangun keberlanjutan agar masyarakat memiliki kepedulian dan rasa memiliki terhadap kawasan mangrove setelah program berakhir.
Komunikasi Strategi Asisten M4CR PPIU Sumut, Reza Levi Nasution menyebutkan bahwa upaya pemulihan mangrove perlu dibarengi dengan penguatan ekonomi warga di sekitar kawasan. Pasalnya, kebutuhan mencari penghasilan menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat memanfaatkan mangrove, termasuk menebang kayunya untuk dijadikan arang.
Melihat kondisi tersebut, program M4CR turut mendorong masyarakat mengembangkan usaha alternatif agar warga tetap memiliki sumber pendapatan tanpa bergantung pada pemanfaatan kawasan mangrove.
"Kalau ada kelompok yang mau merawat dan merehabilitasi mangrove, kita bantu potensi ekonominya," ucap Reza saat melaksanakan kegiatan Media Visiting M4CR PPIU Sumatera Utara di Deli Serdang.
