Cerita Nek Mek, Lansia dengan Rumah Hampir Ambruk di Belawan

Cerita Nek Mek, Lansia dengan Rumah Hampir Ambruk di Belawan

Rechtin Hani Ritonga - detikSumut
Kamis, 17 Sep 2026 18:31 WIB
Nek Mek (73), lansia yang tinggal di rumah yang hampir ambruk di Kecamatan Medan Belawan.
Foto: Nek Mek (73), lansia yang tinggal di rumah yang hampir ambruk di Kecamatan Medan Belawan. (Rechtin Hani Ritonga/detikSumut)
Medan -

Video yang menampilkan rumah hampir ambruk yang dihuni seorang wanita lanjut usia (lansia) di Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan beredar di media sosial. Lansia itu bernama Miah (73) atau sering disapa Nek Mek, warga Lingkungan 26.

Dalam video yang beredar tersebut, rumah Nek Mek tampak amblas di bagian atas dan menimpa bagian bawahnya. Warga sekitar terlihat membantu membereskan runtuhan kayu-kayu di bagian atas rumah.

"Kemarin waktu hujan, petir besar itu. Rumah inikan ada lotengnya, yasudah yang atas itu semua roboh ke bawah. Nenek masih di bawah, lagi bebaring. Ya terkejut karena jatuh kayu-kayunya semua ke bawah," ujar Nek Mek saat ditemui di kediamannya, Kamis (17/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari amatan detikSumut, rumah Nek Mek kini tampak miring ke samping dan hampir ambruk.

Puing-puing kayu bekas loteng di rumah Nek Mek bagian atas telah dibereskan. Kini yang tersisa hanya bagian rumah di lantai bawah dan atap yang ditutupi barang-barang bekas seperti kasur lipat dan terpal.

ADVERTISEMENT

Nek Mek mengungkapkan kejadian rumahnya ambruk terjadi sekitar dua hari yang lalu yakni pada Selasa (15/9/2026). Saat itu ada angin kencang disertai petir.

Nek Mek mengaku saat kejadian, dirinya sedang beristirahat.

"Perasaan Nenek ya, macam manalah ya, mau dibangun enggak ada uangnya. Apa adanya ajalah. Tahan jugalah Nenek kemarin untung juga tidak jebol ke bawah kenalah Nenek, orang Nenek kan enggak bisa berdiri, enggak bisa lari. Terpaksa merangkak-rangkaklah, lama-lama keluar jugalah, bisa keluar (dari rumah)," katanya.

Nek Mek menyebut, dirinya sudah menghuni di rumah tersebut kurang lebih selama 20 tahun. Rumah ini merupakan peninggalan keluarga almarhum suaminya.

"Waktu itu abang ipar sakit, dia pisah dengan istrinya. Jadi minta almarhum suami Nenek untuk menjaganya, pesannya kalau dia sudah meninggal rumah ini untuk suami Nenek," ungkap Nek Mek.

Sejak kejadian rumahnya yang hampir ambruk, Nek Mek mengaku tidak merasa aman untuk tidur di rumah. Namun karena keterbatasan, dirinya beserta anak dan cucunya terpaksa tetap tidur di rumah.

"Sempat juga nyewa di tempat tetangga karena kondisi rumah sudah enggak layak. Tapi duitnya kan pas-pasan, jadi ya mau gak mau tetap harus di sini juga (tidurnya)," ujarnya.

Nek Mek bercerita, suaminya yang bekerja sebagai nelayan meninggal sekitar 25 tahun yang lalu karena tersambar petir saat melaut. Sejak suaminya meninggal, Nek Mek mengaku bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Itu kadang sedekah, orang ada sedekah (untuk makan). Kalau anak tuh ada sikit-sikit nanti kasih juga. Ya duitnya untuk bayar listrik, kalau ada sisa baru untuk masak. Terkadang adapun tak makan Nenek sampai 3 hari, 2 hari. Ya biasalah, kalau Nenek ini tak makan 2 hari, 3 hari sudah biasa," katanya.

Nek Mek mengaku khawatir dengan kondisi rumahnya kini. Ia berharap pemerintah memberikan bantuan untuk memperbaiki kondisi rumahnya tersebut.

"Ya kalau khawatir pasti ada, kalau hujan atau angin lagi terus ambruk ke bawah macam mana. Itulah yang ditakutkan. Kalau berharap dibantu ya pasti, tapi kan kita meminta, kalau ada ya dibantu, kalau enggak ada ya gimana namanya kita meminta," ungkapnya.

Bantuan Terputus Karena Pinjol

Nek Mek menyebut bantuan yang biasa ia terima dari pemerintah terputus lantaran KTP-nya dipakai untuk pinjaman online (pinjol).

"Waktu itu anak saya pakai untuk ambil duit 200 ribu katanya, sudah butuh kali untuk kebutuhan kami juga. Saya bilang yasudah pakailah. Saya enggak tahu namanya apa, tapi gara-gara itu jadi enggak dapat lagi bantuan," katanya.

Anak Nek Mek, Mariani (52) mengatakan bantuan sudah tidak ada sekitar tiga bulan yang lalu. Menurutnya, saat ini pihak Program Keluarga Harapan (PKH) tengah mengurus agar bantuan tetap bisa diproses.

"Cuma kemarin dari PKH katanya sudah diurus dan sedang proses," ungkap Mariani.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kebakaran Panti Jompo di Sri Lanka, 12 Orang Tewas"
[Gambas:Video 20detik] (mjy/mjy)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads