Kegiatan membuang sampah yang selama ini dianggap sepele ternyata mulai menjadi peluang bisnis menguntungkan di China. Sejumlah anak muda memanfaatkan kesibukan masyarakat perkotaan dengan menawarkan jasa pengambilan sampah rumah tangga berbasis langganan.
Dilansir detikFinance dari SCMP, Rabu (16/9/2026), layanan tersebut ramai ditawarkan melalui media sosial. Tarifnya berkisar 3-5 yuan atau sekitar Rp6.600 hingga Rp11.000 sekali pengambilan, dengan asumsi kurs Rp2.200 per yuan.
Selain layanan satu kali pengambilan, sejumlah penyedia jasa juga menawarkan paket berlangganan bulanan. Pelanggan dapat membayar sekitar 100 yuan atau setara Rp220.000 untuk mendapatkan layanan pengumpulan sampah setiap hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sistemnya cukup sederhana. Pelanggan hanya perlu meletakkan kantong sampah di depan pintu rumah, kemudian petugas akan mengambilnya sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Fenomena ini menjadi bagian dari berkembangnya sektor yang dikenal sebagai 'ekonomi malas' atau lazy economy di China. Istilah tersebut merujuk pada berbagai layanan yang dirancang untuk menghemat waktu dan tenaga masyarakat, sekaligus memberikan kemudahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sebelumnya, tren serupa juga muncul dalam bentuk jasa menjemput anak sekolah hingga mengambil paket pesanan pelanggan.
Meski terlihat sederhana, permintaan terhadap layanan semacam ini ternyata cukup tinggi, terutama di kalangan masyarakat yang tinggal di kota besar dengan aktivitas padat.
Salah satu contohnya terjadi di Shanghai. Kota tersebut merupakan wilayah pertama di China yang menerapkan aturan pemilahan sampah rumah tangga secara wajib. Di sejumlah kompleks perumahan, waktu pembuangan sampah bahkan dibatasi hanya dua jam pada pagi hari dan dua jam pada malam hari. Hal ini jadi kesulitan penduduk yang bekerja hingga malam.
"Sebagai pekerja kantoran biasa, mudah bagi saya untuk melewatkan empat jam (waktu pengumpulan sampah) itu," jelas mereka.
Peluang bisnis ini tidak hanya menyasar pekerja kantoran. Fei, salah seorang penyedia jasa pengambilan sampah di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China bagian timur, mengatakan bahwa layanan yang ditawarkannya juga ditujukan bagi warga lanjut usia yang mengalami keterbatasan mobilitas.
Menurut Fei, kelompok lansia yang tinggal di lantai atas apartemen tanpa fasilitas lift menjadi salah satu target konsumennya.
Pada bulan pertama menjalankan usaha tersebut, Fei mengaku telah menerima tiga pesanan. Meski jumlahnya masih terbatas, ia tetap melihat peluang pertumbuhan yang cukup besar.
Ia berencana menjalin kerja sama dengan komunitas warga di sekitar tempat tinggalnya untuk memperluas layanan, khususnya bagi pelanggan lanjut usia yang membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, penyedia jasa serupa dari Hangzhou, Zhejiang, bernama Mihan, mengklaim bisnisnya mendapat respons lebih cepat. Ia mengaku memperoleh lebih dari 20 pesanan hanya dalam tiga hari setelah layanan tersebut diluncurkan. Selain mengambil sampah, Mihan terkadang memberikan layanan tambahan berupa pengambilan paket milik pelanggan.
"Para pekerja kantoran saat ini bersedia mengeluarkan sedikit uang untuk menghemat waktu," kata Mihan sembari menekankan bahwa kunci keberhasilan model bisnis ini adalah keterjangkauan
