Seorang CEO perusahaan logistik di Singapura harus menerima kenyataan setelah gugatan terhadap mantan kekasihnya terkait uang sekitar Rp 6,4 miliar ditolak pengadilan. Uang yang dikeluarkannya selama menjalin hubungan dinilai hakim sebagai hadiah, bukan pinjaman yang wajib dikembalikan.
Dilansir Wolipop dari Mothership, CEO sekaligus managing director perusahaan logistik tersebut, Chander Agarwal, menggugat mantan kekasihnya, Felicia Lee. Agarwal menganggap sejumlah uang yang digunakannya untuk memenuhi berbagai kebutuhan Lee merupakan pinjaman tanpa bunga dan seharusnya dikembalikan.
Dana tersebut digunakan untuk beragam keperluan, termasuk tiket pesawat kelas satu, belanja, jasa feng shui hingga biaya pendidikan. Namun, dalam putusan yang dibacakan pada 9 September, hakim Singapura menilai Agarwal tidak mampu membuktikan bahwa uang tersebut sejak awal diberikan sebagai pinjaman. Atas kekalahan tersebut, Agarwal juga diperintahkan membayar biaya hukum yang dikeluarkan Lee.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokumen persidangan mengungkap Lee sebelumnya pernah bekerja sebagai pramugari. Ia kemudian beralih profesi menjadi agen asuransi dan petugas penjualan medis. Lee pertama kali bertemu Agarwal ketika berada dalam sebuah penerbangan pada 2019.
Usai pertemuan itu, Agarwal menambahkan Lee sebagai teman di Facebook. Keduanya kemudian semakin sering bertemu hingga hubungan mereka berkembang menjadi hubungan romantis pada September 2022.
Keduanya menjalani hubungan hingga Desember 2023. Agarwal kemudian memutuskan hubungan tersebut karena mencurigai Lee berselingkuh. Sekitar tiga bulan setelah hubungan mereka berakhir, Agarwal memilih membawa persoalan mengenai uang yang telah dikeluarkannya ke pengadilan pada Maret 2024.
Sepanjang kedekatan mereka, Agarwal diketahui menghabiskan dana dalam jumlah besar untuk Lee. Dalam gugatan yang diajukannya, ia menyatakan berbagai pengeluaran tersebut merupakan pinjaman tanpa bunga.
Jika ditotal, nilainya mencapai sekitar Rp 6,4 miliar. Salah satu pengeluaran terbesar adalah sekitar Rp 2,8 miliar untuk pembayaran tagihan kartu kredit.
Agarwal juga mengeluarkan sekitar Rp 694 juta dan Rp 895 juta untuk tiket penerbangan kelas satu menuju Amerika Serikat serta berbagai kebutuhan belanja.
Selain itu, ia membayar sekitar Rp 236 juta untuk jasa ahli feng shui. Ada pula pengeluaran sekitar Rp 416 juta untuk mengikuti program manajemen internasional Stanford-NUS.
Agarwal bahkan membayar sekitar Rp 694 juta kepada mantan perusahaan tempat Lee bekerja. Pembayaran tersebut dilakukan setelah Lee berhenti sebagai agen asuransi sebelum memenuhi target yang ditetapkan perusahaan.
Tak hanya itu, sekitar Rp 208 juta juga dikeluarkan Agarwal untuk membantu bisnis fesyen milik Lee.
Meski mengklaim seluruh pengeluaran itu sebagai pinjaman, hakim justru menemukan sejumlah bukti yang mengarah pada kesimpulan berbeda. Menurut hakim, bukti-bukti yang tersedia lebih menunjukkan bahwa Agarwal memberikan uang tersebut sebagai hadiah.
Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan adalah tidak ditemukannya bukti tertulis yang secara jelas menyatakan adanya kesepakatan pinjaman. Padahal, selama menjalin hubungan, keduanya tercatat cukup sering berkomunikasi melalui WhatsApp.
Dalam percakapan pada Mei 2021, misalnya, Agarwal mengatakan telah menyiapkan tiket kelas satu atau suite untuk Lee. Ia bahkan menawarkan penggunaan jet pribadi.
Kemudian pada Agustus 2022, Lee sempat menanyakan bagaimana cara mengembalikan uang yang selama ini telah dikeluarkan Agarwal. Namun, Agarwal justru menjawab bahwa Lee tidak perlu mengembalikannya karena dirinya bukan pemberi pinjaman uang.
Agarwal kemudian mencoba menjelaskan bahwa status uang tersebut berubah menjadi pinjaman setelah hubungan mereka berkembang menjadi hubungan romantis. Ia juga menyebut biaya feng shui sebagai pinjaman karena dirinya tidak mempercayai feng shui.
Sementara itu, dana yang digunakan untuk mengikuti program Stanford-NUS disebutnya sebagai 'grant'. Menurut Agarwal, istilah tersebut dalam konteks tertentu memiliki makna sebagai pinjaman. Namun, hakim menilai penjelasan tersebut tidak masuk akal.
Agarwal hanya memiliki satu dokumen untuk memperkuat klaimnya. Dokumen tersebut berupa catatan tulisan tangan yang menyebut Lee menerima sekitar Rp 138 juta hingga Rp 347 juta setiap bulan sebagai 'deposit' milik Agarwal yang dititipkan untuk disimpan dan dikembalikan ketika diperlukan.
Agarwal menyatakan dokumen itu ditandatangani oleh keduanya. Namun, Lee membantah pernah melihat ataupun membubuhkan tanda tangan pada dokumen tersebut.
Hakim pun tidak menilai catatan itu sebagai bukti yang meyakinkan. Pasalnya, isi dokumen tersebut dinilai tidak sejalan dengan fakta bahwa Lee menggunakan uang yang diterimanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
Terlebih lagi, terdapat dokumen lain yang dibuat setelahnya dan ditandatangani oleh keduanya. Dalam dokumen tersebut, Agarwal menyatakan tidak akan meminta Lee mengembalikan mobil maupun barang-barang yang telah diberikan kepadanya sebagai bentuk kemurahan hati.
Dalam persidangan, Agarwal juga menuduh Lee telah membuatnya percaya bahwa keduanya menjalani hubungan romantis yang serius dan eksklusif. Ia mengaku tidak akan memberikan uang dalam jumlah besar tersebut jika mengetahui Lee menjalin hubungan dengan pria lain.
Namun, hakim menilai persoalan mengenai status hubungan mereka tidak menjadi faktor penentu dalam menentukan apakah uang yang diberikan merupakan hadiah atau pinjaman.
Apalagi, berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan, Agarwal sendiri diketahui melakukan hubungan seksual dengan dua perempuan lain ketika masih menjalin hubungan dengan Lee.
Pada akhirnya, hakim menyimpulkan Agarwal memang memberikan berbagai hadiah bernilai mahal kepada Lee karena pada saat itu ia sangat menyukai mantan kekasihnya tersebut.
Dengan pertimbangan tersebut, gugatan Agarwal untuk mendapatkan kembali uang sekitar Rp 6,4 miliar ditolak. Selain kehilangan gugatan, ia juga diwajibkan membayar biaya hukum yang dikeluarkan oleh mantan kekasihnya.
