Coba perhatikan orang-orang di sekitar, ada yang wajah dan tubuhnya dihiasi banyak tahi lalat, ada pula yang tidak ada sama sekali. Kok bisa terjadi perbedaan seperti itu, padahal sama-sama manusia.
Tahi lalat atau melanocytic nevus merupakan kumpulan sel penghasil pigmen kulit yang disebut melanosit, kemunculannya tidak dipengaruhi satu faktor saja. Genetik, paparan sinar matahari, usia, dan karakteristik kulit dapat ikut berperan dalam menentukan jumlah tahi lalat seseorang.
Dilansir dari penelitian Wachsmuth dan tim yang diterbitkan dalam Journal of Investigative Dermatology, faktor genetik memiliki peran kuat terhadap variasi kepadatan tahi lalat. Penelitian pada pasangan kembar remaja di Inggris memperkirakan sekitar 65 persen variasi kepadatan tahi lalat berkaitan dengan faktor genetik pada kelompok yang diteliti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan tersebut terlihat dari perbandingan pasangan kembar. Kembar identik yang memiliki susunan genetik lebih mirip cenderung menunjukkan kemiripan jumlah tahi lalat dibandingkan kembar tidak identik.
Artinya, jika seseorang memiliki banyak tahi lalat, bisa saja ada kecenderungan genetik yang membuat kulitnya lebih mudah membentuk nevus. Namun, genetik bukan satu-satunya penyebab karena paparan sinar matahari juga ikut ambil bagian.
Penelitian lain terhadap pasangan kembar remaja menemukan adanya hubungan antara paparan sinar matahari dan kepadatan tahi lalat. Kelompok dengan paparan matahari lebih tinggi cenderung memiliki jumlah tahi lalat yang lebih banyak.
Menariknya, bukan berarti semakin sering berada di bawah matahari, seseorang pasti memiliki semakin banyak tahi lalat. Respons kulit terhadap sinar ultraviolet juga berbeda pada setiap orang.
Oleh karena itu, faktor genetik dan lingkungan dapat saling berinteraksi, sehingga jumlah tahi lalat seseorang tidak bisa dijelaskan hanya dari seberapa sering ia terkena matahari.
Tahi lalat juga dapat muncul dan bertambah terutama sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Seiring bertambahnya usia, beberapa tahi lalat dapat berubah ukuran, warna, atau bentuk. Jadi, kulit yang dulu hanya memiliki sedikit titik bisa saja memiliki beberapa "penghuni baru" ketika seseorang beranjak dewasa.
Lalu, apakah punya banyak tahi lalat berarti berbahaya? Tidak selalu. Banyak tahi lalat bersifat jinak. Namun, perubahan yang mencolok perlu diperhatikan, terutama jika tahi lalat berubah ukuran, bentuk, warna, tepi, atau terus berkembang. Jika perubahan tersebut mencurigakan, pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan.
Jadi, kenapa ada orang yang punya banyak tahi lalat, sementara yang lain hampir tak punya? Jawabannya bukan karena kurang menjaga kebersihan, bukan pula karena "darah kotor".
Perbedaan itu lebih berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan lingkungan, termasuk paparan sinar ultraviolet serta perubahan yang terjadi sepanjang hidup. Jadi, jangan sibuk menghitung titik di kulit, yang lebih penting adalah mengenali jika ada tahi lalat yang tiba-tiba berubah.
Artikel ditulis Nency, mahasiswi PKL Unimed di detikcom
Simak Video "Video: Faktor Genetik Jadi Penyebab Utama Autisme pada Anak"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
