Panik Getaran Erupsi Anak Krakatau, Warga Ngungsi karena Trauma Tsunami

Panik Getaran Erupsi Anak Krakatau, Warga Ngungsi karena Trauma Tsunami

Anggi Muliawati - detikSumut
Sabtu, 05 Sep 2026 11:31 WIB
Erupsi Gunung Anak Krakatau
Foto: (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Warga di Kecamatan Carita, Pandeglang, Banteng, panik saat merasakan getaran akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Warga yang panik memilih untuk mengungsi dari rumahnya karena trauma peristiwa tsuami 2018 lalu.

Mohd Rizqi Baidullah bercerita getaran itu dirasakannya dini hari tadi. Menurut dia, warga di sekitar rumahnya juga merasakan hal yang sama.

"Getaran jendela dan dentuman keras sesekali ini sudah kami rasakan sejak jam 2 dini hari tadi. Sempat kami kira hanya terasa di rumah kami saja tapi tadi pagi ternyata tetangga-tetangga kami semuanya sama merasakan," katanya dikutip detikNews, Sabtu (5/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan sampai saat ini getaran masih terasa. Sesekali, kata dia, getaran tersebut hilang timbul.

"Hingga saat ini juga getaran masih terasa tapi sesekali menghilang dan sesekali lebih besar," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan situasi tersebut membuat warga panik. Dia menyebut sebagian warga pun memilih mengungsi.

"Masyarakat panik bahkan sebagian juga sudah ada yang pergi mengungsi. Sebagian tetangga udah ada yang mengungsi karena mungkin trauma akan kejadian tsunami Selat Sunda tahun 2018 lalu," ungkapnya.

"Jujur kami masyarakat semuanya merasakan trauma mendalam akan terjadi lagi tragedi tsunami selat sunda itu," sambungnya.

Meski begitu, dia mengaku masih bingung dengan suara dentuman dan getaran tersebut. Dia berharap ada informasi resmi dan arahan yang jelas dari pemerintah maupun instansi terkait mengenai kondisi yang dirasakan.

"Sebetulnya kami juga belum bisa memastikan apakah getaran dan sesekali dentuman keras yang kami rasakan ini betul dari aktivitas vulkanik Gunung Krakatau karena kami sendiri bingung belum ada informasi resmi apapun dari pemerintah. Kami masih bingung apa yang sebetulnya terjadi dan harus berbuat seperti apa," imbuh dia.

Sebelumnya, BNPB mengatakan pemerintah memberi perhatian soal kekhawatiran masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kekhawatiran tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman masyarakat terhadap peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Oleh sebab itu, diharapkan kepada masyarakat agar tidak panik," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Sabtu (5/9).

Meski demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari PVMBG serta tidak mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan aktivitas visual maupun suara dentuman yang terdengar.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Penjelasan BNPB soal Pengungsi Gempa NTT Bertambah Sampai 16.394 Orang"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads