Kebakaran Lahan 30 Hektare di Lingga Belum Padam Selama 14 Hari

Kepulauan Riau

Kebakaran Lahan 30 Hektare di Lingga Belum Padam Selama 14 Hari

Alamudin Hamapu - detikSumut
Jumat, 04 Sep 2026 12:02 WIB
Kebakaran lahan di Desa Kudung, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga, Kepri, Kebakaran seluas sekitar 30 hektare itu telah berlangsung sejak 22 Agustus 2026
Kebakaran lahan di Desa Kudung, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga, Kepri, Kebakaran seluas sekitar 30 hektare itu telah berlangsung sejak 22 Agustus 2026 (Foto: Dok. BPBD)
Lingga -

Kebakaran lahan seluas lebih kurang 30 hektare terjadi di Desa Kudung, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri). Api yang mulai membakar lahan sejak 22 Agustus 2026 hingga kini belum sepenuhnya padam.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lingga Oktanius Wirsal mengatakan kebakaran telah berlangsung selama 14 hari. Kondisi lahan yang kering akibat belum turun hujan selama sekitar tiga bulan serta angin kencang membuat proses pemadaman menjadi sulit.

"Mulai 22 Agustus sampai sekarang masih belum padam," kata Oktanius, Jumat (4/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebakaran bermula saat seorang warga melakukan kegiatan manduk, yakni mengumpulkan bekas tebasan dalam proses pembukaan lahan. Setelah menyelesaikan satu manduk, warga tersebut kemudian membakarnya.

Namun, api kemudian merambat ke bagian lahan lainnya. Kondisi cuaca panas dan angin kencang membuat kobaran api cepat meluas.

ADVERTISEMENT

"Warga awalnya berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya, seperti ember yang diisi air dari parit di sekitar lahan. Namun api tidak terkendali," jelasnya.

Berdasarkan laporan BPBD Lingga, total lahan yang terbakar diperkirakan mencapai lebih kurang 30 hektare. Dari luasan tersebut, tim gabungan baru berhasil memadamkan sekitar 10 hektare.

Pemadaman masih dilakukan secara bertahap oleh personel gabungan. Mereka menyemprotkan air yang bersumber dari parit di sekitar lokasi menggunakan mesin Robin milik PT CSA.

"Personel yang terlibat antara lain BPBD, Polsek Daik Lingga, Yonif TP 849/Beladau Sakti, Koramil, Pos AL, pekerja PT CSA, serta masyarakat Desa Kudung," ujarnya.

Selain melakukan pemadaman, petugas juga melakukan monitoring di titik-titik api dan area bekas kebakaran untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu api.

Oktanius mengatakan kebakaran tersebut menjadi perhatian karena lokasi lahan yang terbakar berada tidak jauh dari area perkebunan milik masyarakat.

"Jarak lokasi kebakaran dengan permukiman warga diperkirakan sekitar 1 kilometer. Sementara titik kebakaran berjarak sekitar 1,5 kilometer dari bibir jalan," ujarnya m

Akses menuju lokasi juga menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Petugas harus melalui jalan setapak untuk mencapai titik kebakaran dan membawa peralatan serta air ke lokasi.

"Kita takutkan kalau api sampai ke kebun sagu warga dua desa yang jumlahnya lebih dari 800 hektare," ujarnya.

Menurutnya, kondisi lahan yang sangat kering menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko kebakaran meluas. Terlebih, wilayah tersebut disebut sudah sekitar tiga bulan tidak mendapatkan hujan.

"Sudah tiga bulan juga belum hujan," ujarnya.

Lahan yang terbakar tersebut sebelumnya dibuka untuk rencana pengembangan kebun kelapa hibrida. Program tersebut merupakan bagian dari program Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

BPBD menduga kebakaran terjadi akibat kelalaian saat pembukaan lahan dengan metode pembakaran. Api kemudian merambat akibat kondisi cuaca panas dan angin kencang.

"Selain keterbatasan sarana dan prasarana, kendalanya juga faktor kondisi lahan yang kering," jelas Oktanius.

Hingga kini, tim gabungan masih melakukan pemadaman dan pemantauan untuk memastikan seluruh titik api benar-benar padam.

"Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Sementara kerugian materiil masih dalam proses pendataan," ujarnya.

Oktanius berharap ada dukungan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk mempercepat penanganan kebakaran lahan di Lingga. Dukungan tersebut antara lain berupa water bombing, operasi modifikasi cuaca, serta tambahan peralatan pemadaman.

"Harapan kita kiranya ada dukungan water bombing atau modifikasi cuaca untuk di daerah Kabupaten Lingga, serta dukungan alat dari BPBD Provinsi dan BNPB," ujarnya.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads