Setiap Muslim tentu berharap seluruh amal ibadah yang dikerjakannya dapat diterima oleh Allah SWT. Namun, persoalan diterima atau tidaknya suatu amalan pada hakikatnya merupakan perkara gaib yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Meski begitu, seorang Muslim tetap dapat melakukan muhasabah atau introspeksi diri sebagai upaya memperbaiki kualitas ibadah. Refleksi terhadap hati, niat, dan perilaku juga penting agar ibadah yang dilakukan semakin mendekati tuntunan yang benar.
Lantas, apa saja hal yang dapat menjadi bahan evaluasi terkait ibadah yang dikhawatirkan tidak diterima oleh Allah SWT?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semakin Larut dalam Urusan Dunia
Dilansir detikHikmah dari hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam Asrar al-Haj yang diterjemahkan Mujiburrahman menjelaskan bahwa tanda diterimanya ibadah haji dapat terlihat dari perubahan hati dan perilaku seseorang.
Menurut Imam al-Ghazali, ibadah dapat memberikan pengaruh positif apabila setelah menjalaninya seseorang semakin menjauh dari pembicaraan mengenai urusan duniawi dan lebih memperhatikan kehidupan akhirat. Selain itu, kecintaannya kepada Allah SWT semakin tumbuh dan syariat dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani berbagai aktivitas.
Sebaliknya, apabila setelah beribadah seseorang justru semakin larut dalam urusan dunia dan perilakunya tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, kondisi tersebut patut menjadi bahan introspeksi.
Ibadah Tidak Sesuai Tuntunan Syariat
Dalam buku Agar Shalat Dhuhamu Berbuah Kekayaan karya Iqra Al Firdaus disebutkan bahwa ibadah yang tidak dilaksanakan sesuai ketentuan syariat dapat berstatus mardud, atau tidak diterima oleh Allah SWT.
Ibadah yang tertolak tersebut juga disebut tidak akan menghasilkan hikmah maupun rahmat sebagaimana yang diharapkan dari pelaksanaan suatu ibadah.
Terdapat hadis yang menjelaskan bahwa suatu amalan yang dibuat-buat dan tidak memiliki dasar dalam syariat akan ditolak. Diriwayatkan oleh A'isha, Rasulullah SAW bersabda:
"Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak ada dasarnya, maka itu ditolak." (HR Muslim No 1718)
Melakukan Ibadah dengan Riya
Riya merupakan sikap melakukan suatu amalan dengan tujuan memperoleh penilaian, pujian, atau pengakuan dari orang lain. Sikap ini menunjukkan bahwa perbuatan yang dilakukan tidak sepenuhnya berlandaskan ketulusan kepada Allah SWT.
Dalam buku Etika Islam: Menuju Evolusi Diri karya Faidh Kasyani dijelaskan bahwa setiap perbuatan berada di antara dua sisi. Ketika dilakukan dengan ikhlas, suatu amalan akan mengarah kepada kebaikan. Sebaliknya, apabila dikerjakan dengan riya, amalan tersebut akan bergeser ke arah keburukan.
Riya dalam beribadah demi mendapatkan pengakuan dari manusia juga disinggung dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu 'Umamah Al-Bahili. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya." (HR An-Nasa'i No. 3140)
Ikhlas dan Sesuai Syariat
Mengutip buku Fiqh Ibadah karya Zaenal Abidin, terdapat dua syarat utama agar suatu ibadah dapat diterima oleh Allah SWT. Pertama, ibadah tersebut harus dilakukan dengan niat yang ikhlas. Kedua, pelaksanaannya harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Apabila salah satu dari dua syarat tersebut tidak terpenuhi, amalan ibadah berpotensi tertolak. Prinsip tersebut juga dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-Kahfi ayat 110.
ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΩ ΩΨ§Ω Ψ§ΩΩΩΨ§Ϋ Ψ¨ΩΨ΄ΩΨ±Ω Ω ΩΩΨ«ΩΩΩΩΩΩ Ω ΩΩΩΩΨΩ°ΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΩ ΩΨ§Ω Ψ§ΩΩΩ°ΩΩΩΩΩ Ω Ψ§ΩΩΩ°ΩΩ ΩΩΩΨ§ΨΩΨ―ΩΫ ΩΩΩ ΩΩΩ ΩΩΨ§ΩΩ ΩΩΨ±ΩΨ¬ΩΩΩΨ§ ΩΩΩΩΨ§Ϋ€Ψ‘Ω Ψ±ΩΨ¨ΩΩΩΩ ΩΩΩΩΩΩΨΉΩΩ ΩΩΩ ΨΉΩΩ ΩΩΩΨ§ Ψ΅ΩΨ§ΩΩΨΩΨ§ ΩΩΩΩΩΨ§ ΩΩΨ΄ΩΨ±ΩΩΩ Ψ¨ΩΨΉΩΨ¨ΩΨ§Ψ―ΩΨ©Ω Ψ±ΩΨ¨ΩΩΩΩΩ Ψ§ΩΨΩΨ―ΩΨ§ ΰ£
Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa." Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya."
Ibnu Katsir RA menjelaskan, "Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh," yang dimaksud adalah menunaikan ibadah sesuai syariat Allah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Adapun, "Janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya," berarti bahwa diperintahkan untuk senantiasa mengharap wajah Allah SWT semata dan tidak berbuat syirik terhadap-Nya.
Pada akhirnya, diterima atau tidaknya seluruh amal ibadah merupakan hak prerogatif Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hal tersebut selain Dia. Karena itu, seorang Muslim dapat terus berupaya memperbaiki niat, menjaga keikhlasan, serta menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat. Wallahu a'lam.
Baca juga: Tanda-tanda Ibadah Tidak Diterima Allah |
