Apa Dampak Sering Skip Sarapan? Ini 5 Pengaruhnya pada Gula Darah

Apa Dampak Sering Skip Sarapan? Ini 5 Pengaruhnya pada Gula Darah

Diah Afrilian - detikSumut
Sabtu, 29 Agu 2026 08:30 WIB
Ilustrasi Sarapan Sehat
Foto: Shutterstock/
Medan -

Sarapan kerap dianggap sekadar rutinitas untuk mengisi tenaga sebelum memulai aktivitas. Padahal, melewatkan makan pagi ternyata tidak hanya membuat perut kosong, tetapi juga dapat mempengaruhi cara tubuh mengatur gula darah sepanjang hari.

Tinjauan sistematis terbaru yang menganalisis puluhan penelitian menemukan adanya kaitan antara kebiasaan skip sarapan dan gangguan kontrol glukosa. Saat sarapan dilewatkan, tubuh tetap harus menjaga pasokan energi sehingga perubahan hormon dan metabolisme dapat terjadi.

Dilansir detikFood dari laman Verywell Health, melewatkan makan pagi bukan hanya soal rasa lapar. Kondisi ini berpotensi membuat respons gula darah setelah makan berikutnya menjadi lebih tinggi, terutama pada orang dengan diabetes tipe 2.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa saja perubahan yang bisa terjadi pada gula darah ketika seseorang terlalu sering melewatkan sarapan? Berikut lima dampaknya yang menarik diketahui, terutama bagi mereka yang terbiasa memulai hari hanya dengan kopi atau langsung menunggu hingga waktu makan siang.

Dampak Skip Sarapan Terhadap Gula Darah

1. Penurunan Energi Secara Drastis

Sebagian orang mungkin merasa tetap fokus ketika tidak sarapan. Namun, energi bisa menurun setelah beberapa waktu dan menimbulkan rasa lelah.

ADVERTISEMENT

Pada pagi hari, hormon kortisol berada pada tingkat lebih tinggi. Hormon ini dapat membantu meningkatkan gula darah dan menjaga tubuh tetap waspada.

Ketika kadar kortisol mulai menurun, energi juga dapat ikut berubah. Kondisi tersebut bisa membuat seseorang merasa lemas sebelum waktu makan berikutnya.

2. Mempengaruhi Sensitivitas Insulin

Waktu makan juga berhubungan dengan sensitivitas insulin tubuh. Makan lebih awal dikaitkan dengan kemampuan tubuh mengatur gula darah yang lebih baik.

Tubuh memiliki ritme sirkadian yang mempengaruhi metabolisme sepanjang hari. Insulin cenderung bekerja lebih baik pada waktu yang lebih awal.

Hal tersebut membuat menunda makan pertama dapat mempengaruhi cara tubuh memproses karbohidrat. Pengaturan waktu makan menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan.

3. Rasa Lapar Lebih Sulit Dikendalikan

Tidak sarapan belum tentu membuat seseorang makan lebih sedikit sepanjang hari. Sebaliknya, rasa lapar bisa meningkat dan mendorong makan berlebihan.

Hormon ghrelin yang memicu rasa lapar dapat meningkat ketika waktu makan dilewati. Keinginan mengonsumsi makanan berkarbohidrat sederhana juga bisa muncul.

Porsi makan yang lebih besar kemudian berpotensi membuat gula darah melonjak. Siklus ini dapat terjadi ketika seseorang sering menunda makan pagi.

4. Gula Darah Lebih Cepat Naik

Melewatkan sarapan dapat membuat gula darah melonjak lebih tinggi setelah makan berikutnya. Kondisi ini berkaitan dengan respons tubuh terhadap karbohidrat.

Tubuh memiliki efek bernama second meal effect. Sarapan membantu tubuh memproses gula pada waktu makan berikutnya dengan lebih baik.

Jika sarapan dilewati, manfaat tersebut bisa berkurang. Akibatnya, tubuh dapat mengalami respons gula darah yang lebih tinggi setelah makan siang.

5. Gula Tetap Dirilis Hati

Saat pagi, hati secara alami melepaskan cadangan glukosa untuk menyediakan energi. Proses ini tetap berlangsung ketika seseorang belum makan.

Tanpa asupan makanan, pelepasan glukosa dari hati dapat berlangsung lebih lama. Kondisi ini bisa membuat gula darah tetap tinggi hingga pertengahan pagi.

Kadar insulin yang rendah saat berpuasa turut berperan dalam proses tersebut. Dampaknya dapat lebih terasa pada orang yang mengalami resistensi insulin.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Pentingnya Pola Hidup Sehat-Berolahraga agar Terhindar dari Diabetes Tipe 2"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads