Siapkan Mesin Pendeteksi Pita Cukai Palsu, Purbaya Gandeng Perusahaa Asing

Siapkan Mesin Pendeteksi Pita Cukai Palsu, Purbaya Gandeng Perusahaa Asing

Retno Ayuningrum - detikSumut
Sabtu, 29 Agu 2026 07:30 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun hingga semester I 2026. Defisit tersebut terjadi karena realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan yang berhasil dihimpun pemerintah sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pihak akan melibatkan Peruri dan perusahaan luar negeri untuk mencegah peredaran pita cukai palsu. Dia yakin teknologi akan mampu memberantas peredaran pita cukai palsu.

"Namanya track and trace dari satu perusahaan kerja sama dengan Peruri. Nanti di situ cukainya nggak bisa dipalsu, beda lagi cukainya. Ada smart digital. Bukan barcode, scan khusus. (Perusahaan) dari luar negeri, tapi saya belum bisa buka perusahaannya," ujar Purbaya dikutip detikFinance.

Teknologi yang akan digunakan, kata Purbaya, akan dilengkapi dengan pindai khusus dan sistem pengiriman data secara langsung. Menurutnya, keaslian pita cukai pada kemasan rokok dapat diverifikasi hanya menggunakan handphone.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak hanya itu, pemerintah juga akan menempatkan mesin di pabrik-pabrik rokok besar untuk mengawasi jumlah produksi. Mesin tersebut akan terhubung langsung ke sistem pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

ADVERTISEMENT

"Nanti ke-link langsung ke Bea Cukai Pusat. Jadi ke depan permainan seperti itu kita harapkan akan berkurang. Kalau bisa sih dihilangin semua. Itu kan orang Indonesia kan pintar sekarang akal-akalin. Jadi, kita akan pastikan itu nggak terjadi lagi," jelas Purbaya.

Purbaya mengaku lebih memilih fokus membenahi sistem pencegahan ke depan ketimbang melacak ke belakang. Namun, ia tak segan memecat apabila ada pegawai di DJBC yang terlibat dalam permainan tersebut.

Terkait pembiayaan teknologi ini, Purbaya menjelaskan perusahaan asing disebut menggunakan skema investasi di mana pembayaran dilakukan melalui pembagian persentase dari tambahan pendapatan (additional income) yang dihasilkan.

"Anggarannya nanti dia akan ambil dari persentase berapa yang dihitung. Ada additional income-nya berapa dari situ, additional income ya. Kita akan coba 5 tahun ke depan. Kalau nggak ada tambahan income, saya berhentiin," imbuhnya.

Saat ini, rencana tersebut telah melalui tahapan uji coba di Jawa Tengah. Dalam waktu dekat, implementasinya akan diperluas secara bertahap hingga ratusan mesin tersebar dalam beberapa bulan ke depan.

"Kan itu mesinnya juga itu kan betul-betul custom, harus dibuat sendiri, itu perlu waktu. Sekarang sudah dicoba di Jawa Tengah satu ya. Nanti dalam waktu dekat diperluas. Karena kita dalam 6 bulan kalau nggak salah udah dapat berapa 100 mesin, 9 bulan tuh 240 mesin," terangnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Purbaya soal Isu Dirjen Bea Cukai Bakal Dicopot: Lihat Minggu Depan"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads