Kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla terjadi di lahan semak belukar di Desa Rimbo Panjang, Tambang, Kampar sejak 2 pekan terakhir. Seorang pengusaha kerupuk terpaksa harus menutup usahanya akibat dikepung asap.
Warga terdampak asap karhutla itu adalah Nurhayati. Rumahnya di ujung Jalan Keluarga itu mulai dikepung asap karhutla sejak 2 pekan lalu setelah terlihat api dari semak belukar.
"Kebakaran sudah 2 minggu lalu. Nampak itu api sudah sama asap di semak belukar, sudah besar," kata Nurhayati saat ditemui detikSumut di lokasi, Senin (24/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nur mengaku sudah ada rencana ngungsi ke rumah keluarga. Namun dia dan suami khawatir karena tempat tinggalnya berada tepat di sebelah lahan terbakar dan masih ada usaha.
Melihat kondisi asap semakin pekat, Nur sementara memutuskan menutup lapak usahanya. Bahkan, bisnis untuk keluarga tersebut sudah tutup sejak 2 hari terakhir.
"Rencana mau mengungsi ada, tetapi kan sekarang karena usaha tak bisa ditinggal. Sekarang usaha sudah 2 hari tutup karena asap ngeri sekali," katanya.
Nur tinggal di rumah bersama seorang anak dan suami. Kabut asap kali ini, disebutnya terparah sejak 5 tahun terakhir.
'Kami keluarga ada tiga orang, tinggal sudah 5 tahun dan ini terparah sejak tinggal di sini. Sekarang masih bertahan di rumah," katanya.
Sejak dua pekan terakhir, kabut asap justru sangat pekat pada Minggu (23/8) sore. Di mana kobaran api semakin besar disertai asap tebal dari lahan gambut.
Sebagai warga tempatan, Nur mengaku asap tebal menyelimuti tempat tinggalnya pada sore dan dini hari. Hal itu tergantung arah mata angin.
"Asap itu paling parah kemarin, subuh itu pekat sekali naik. Memang kemarin juga parah karena kebakaran juga parah," kata Nur yang terus bolak-balik menantau petugas melakukan pemadaman karhutla.
Warga lain, Hendra mengaku wilayahnya di Rimbo Panjang sudah dikepung asap sejak beberapa hari terakhir. Namun pada 2-3 hari ini justru lebih parah.
"3 hari terakhir ini parah. Bahkan sore dan malam itu sesak, mata juga pedih karena asap," kata Hendra.
