5 Hal Disampaikan Bos BGN Seusai Jenguk Korban Keracunan MBG di Karo

Round Up

5 Hal Disampaikan Bos BGN Seusai Jenguk Korban Keracunan MBG di Karo

Tim detikSumut - detikSumut
Senin, 17 Agu 2026 10:29 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN)
Kepala BGN Sudaryono (Foto: Taufik/detikcom)
Medan -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mendatangi RS Haji Medan untuk menjenguk murid SMA di Karo yang keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut kondisi korban sudah jauh lebih baik setelah mendapat perawatan dari dokter rumah sakit.

"Saya sudah lihat kondisinya, sudah hari ketiga di ICU anak. Kondisi yang kami terima menurut laporan dokter yang merawatnya, kondisinya sudah berangsur membaik," ungkap Sudaryono, Minggu (16/8/2026).

"Sudah lebih baik (pasien), tapi masih di ICU. Semoga segera bisa dirawat di ruangan biasa, artinya kan sudah jauh lebih baik," lanjut dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirangkum detikcom, berikut ini sejumlah hal yang disampaikan mantan Wakil Menteri Pertanian itu usai menjenguk korban keracunan MBG. Simak sampai akhir

5 Hal Disampaikan Bos BGN Setelah Jenguk Korban Keracunan MBG di Karo


1. Korban Alami Infeksi

Sudaryono menyebut korban dirawat di ruang ICU anak. Ia menyebut perawatan dilakukan dengan memantau kondisi tubuh korban serta menangani infeksi dan toksin yang diduga masuk ke tubuh.

ADVERTISEMENT

"Treatment-nya kondisi perut dipuasakan, karena ada bakteri, ada inputan antibiotik, pain killer anti nyeri dan bagaimana caranya agar toksinnya itu keluar," katanya.

Sudaryono menegaskan bahwa kasus keracunan MBG tidak boleh dianggap sepele. Ia mengaku sedih dan marah setelah melihat langsung kondisi korban.

"Perasaan saya antara sedih sama marah sama keadaan. Ini enggak boleh lagi terjadi," ujarnya.

2. Tak Ingin Lagi Ada Murid Keracunan MBG

Sudaryono akan ambil sejumlah langkah agar kondisi serupa tidak lagi terjadi dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, ke depan tidak boleh ada satupun lagi peristiwa keracunan.

"Memang tingkat jumlah keracunannya menurun, tapi saya bukan butuh penurunan. Saya butuh nol kasus. Nggak boleh lagi ada," kata Sudaryono.

Di samping itu, ia juga beri peringatan tegas kepada seluruh Kepala SPPG maupun petugas agar menjalankan prosedur sesuai SOP. Ia menyebut pelaksanaan MBG bukan hanya sekadar memasak namun juga menyangkut nyawa seseorang.

"27 ribu kepala dapur SPPG di seluruh Indonesia harus hati-hati. Nggak hanya masak saja, ini masalah nyawa. Kau bayangkan itu adikmu," kata Sudaryono.

3. Ancam Pecat Kepala SPPG Jika Lalai

Sudaryono mengatakan SPPG yang bikin keracunan murid di Karo diberikan sanksi berat. Dia juga tak ragu untuk memecat Kepala SPPG jika lalai.

"Sanksinya pertama dapurnya di-suspend berat, kemudian kepala SPPG-nya bukan hanya dicopot tapi saya ajukan pemecatan dengan tidak hormat status ASN-nya," ucap Sudaryono.


4. Temukan Indikasi Kelalaian

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal ditemukan adanya unsur kelalaian yang mengakibatkan murid SMA di Karo keracunan setelah konsumsi MBG. Menurut dia, 300-an ekor ikan tidak dimasukkan ke freezer malah didiamkan di suhu ruang selama belasan jam.

Sudaryono menyebut temuan tersebut berdasarkan investigasi sementara yang dilakukan pihaknya terkait kasus keracunan yang dialami siswa di Karo.

"Kami sudah coba cek sementara, jadi kelalaian itu ada di pengelolaan. Bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, tapi ada sekitar 200-300 ekor ikan tidak masuk freezer, itu di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 jam," ungkap Sudaryono.

Sudaryono menyebut ikan tersebut tidak seharusnya dibiarkan dalam suhu ruang dalam waktu lama. Ia mengatakan kelalaian dalam pengelolaan bahan baku merupakan hal yang serius.

"Ikan basah ditaruh di suhu ruangan itu suatu kebodohan menurut saya, kelalaian ya. Khilafnya itu menyangkut nyawa seseorang. Dapur itu tidak boleh ada kelalaian," kata Sudaryono.

5. Minta Kepala SPPG Mundur Jika Tak Sanggup

Kepada seluruh Kepala SPPG di Indonesia, dia berpesan agar tugas secara hati-hati. Lebih baik, kata dia, Kepala SPPG mundur jika tak sanggup mengelola dapur MBG.

"Kepala dapur kalau tidak sanggup kerja, kau keluar saja daripada membahayakan nasib seseorang," ujarnya.

Sementara itu, pihaknya akan terus melakukan evaluasi dan langkah serius agar kasus keracunan dalam pelaksanaan MBG tidak terjadi kembali.

"Memang tingkat jumlah keracunannya turun tapi saya enggak butuh penurunan, saya butuhnya nol kasus. Enggak boleh lagi ada (kasus)," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Soal Keracunan Di SMAN 1 Lasem, DPRD Rembang : Belum Tentu Karena MBG"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads