Penjelasan BMKG soal Gempa Kuat yang Guncang NTT-Sumut dalam Sehari

Penjelasan BMKG soal Gempa Kuat yang Guncang NTT-Sumut dalam Sehari

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikSumut
Minggu, 16 Agu 2026 12:32 WIB
Ilustrasi Gempa Bumi di Indonesia
Foto: Ilustrasi gempa. (detikcom/Mindra Purnomo)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan soal tiga gempa kuat terjadi dalam sehari pada 15 Agustus kemarin. BMKG menyebut bahwa tiga gempa yang terjadi tersebut tidak ada korelasi langsung.

Dilansir detikNews, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan berdasarkan analisisnya gempa kuat yang terjadi di NTT, Simalungun hingga Parigi tersebut tidak berkorelasi langsung.

"Tidak ada korelasi langsung. Ketiga gempa yaitu NTT M 7,7 akibat Sesar Back Arc Thrust Flores, Simalungun M 6,4 akibat Subduksi Lempeng Indo-Australia, dan Parigi Moutong M 5,9 akibat Deformasi Dalam Lempeng Laut Sulawesi terjadi di 3 sistem sumber dan tatanan tektonik yang berbeda. Secara mekanis tidak saling memicu," ujarnya kepada wartawan, Minggu (16/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia juga menjelaskan bahwa ketiga gempa yang terjadi memiliki sumber dan karakteristik yang berbeda. Berikut ini rinciannya:

  • NTT M 7,7: Gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Back Arc Thrust Flores. Mekanisme naik/thrust.
  • Simalungun M 6,4: Gempa kedalaman menengah akibat subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Bukan dari sesar darat, melainkan dari bidang penunjaman.
  • Parigi Moutong M 5,9: Gempa dangkal-menengah 60 km akibat deformasi kompresi intraplate di Teluk Tomini dengan mekanisme oblique thrust.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa gempa yang terjadi di Simalungun belum ada aftershock yang terekam hingga saat ini. Begitu juga dengan gempa Parigi Moutong belum ada aftershock juga.

Sementara gempa NTT memiliki aftershock yang sangat banyak.

"Perbedaan jumlah aftershock ini juga menguatkan bahwa tiap gempa melepas energi sesuai karakteristik patahannya masing-masing," ujarnya.

Menurut dia, fenomena tiga gempa dalam sehari itu merupakan seismic clustering atau klasterisasi seismik. Sebab, Indonesia memang memiliki banyak zona aktif.

"Kejadian berdekatan ini merupakan 'seismic clustering'. Indonesia punya banyak zona aktif sehingga wajar beberapa segmen melepas stres dalam waktu dekat, namun independen," ungkapnya.

Baca selengkapnya di sini



(mjy/mjy)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads