Viral di media sosial puluhan orang tua (ortu) siswa protes di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 060951, Jalan KL Yos Sudarso, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan. Pihak sekolah buka suara terkait hal ini.
Dalam video yang beredar, seorang wali murid merekam situasi puluhan orang tua siswa serta siswa yang diantar ke sekolah tengah menunggu di depan gerbang yang sudah ditutup.
Murid-murid yang diantarkan orang tuanya tersebut terpaksa menunggu di depan gerbang karena sudah terlambat. Orang tua menyinggung terkait kemacetan jalan yang terjadi lantaran posisi sekolah berada di tepi jalan raya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dikunci pagarnya, tak dibolehkan anak-anak masuk. Dan ini akan mengancam keselamatan anak-anak. Ini di Jalan Raya Yos Sudarso, gara-gara anak-anak terlambat masuk," ujar orang tua siswa dalam video yang beredar di Instagram dilihat detikSumut, Jumat (14/8/2026).
Wali murid tersebut pun meminta agar Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan menindak kepala SDN karena telah menutup gerbang.
"Ini supaya Dinas Pendidikan menindak kepala sekolah yang tak becus," keluh orang tua siswa dalam video viral itu.
Terkait video viral ini, Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 060951 Medan Labuhan, Lesmono membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, peristiwa itu terjadi saat siswa dan guru-guru melakukan upacara bendera.
"Pada hari Senin kemarin, ada keributan sedikit di depan pagar sekolah. Waktu itu Hari Senin, ada pelaksanaan upacara bendera. Pukul 07.17 WIB pintu gerbang ditutup, dan anak-anak tidak boleh masuk dulu. Nah, barulah dilaksanakan upacara bendera agar khidmat," kata Lesmono saat diwawancarai, Jumat (14/8/2026).
Dikatakan Lesmono, penutupan gerbang tersebut merupakan konsekuensi bagi murid dan guru yang terlambat masuk. Hal ini, kata dia, merupakan peraturan sekolah untuk menanamkan nilai disiplin kepada siswa.
"Saya pun tidak berpikir panjang, kenapa bisa viral seperti ini, ya? Tapi saya juga berpikir yang saya lakukan itu tidak salah. Saya hanya berpedoman bagaimana cara mendidik anak, mendisiplinkan anak. Mungkin orang tua siswa punya pandangan lain ya tentang kehidupan sekolah. Tapi yang penting, sekolah tetap berjalan sebagaimana mestinya yang pernah kami programkan untuk masa depan anak-anak," imbuhnya.
Ia mengatakan, saat peristiwa di dalam video viral itu terjadi, ada sekitar 20 murid yang terlambat dan menunggu di depan gerbang. Menurutnya, orang tua yang melakukan protes juga turut meramaikan sehingga menyebabkan jalanan macet.
Lesmono menerangkan bahwa orang tua tidak semestinya ikut menunggu di depan gerbang. Sebab, ungkapnya, sudah ada 5 guru piket yang mengawasi anak-anak di depan gerbang sampai upacara selesai.
"Kalaupun ada anak yang terlambat, di depan gerbang ada guru piket, kok. Jadi yang sebagian mengatur upacara, yang sebagian lagi mengatur menjaga di situ. Jadi anak-anak tetap diawasi," katanya.
Aturan seperti ini disebut Lesmono dilakukan hanya pada hari Senin saja karena ada upacara bendera. Hari Selasa dan seterusnya, anak-anak tetap dipersilakan langsung masuk sekolah jika terlambat.
"Guru yang terlambat juga sama. Bahkan kami memberi sanksi lanjutan kepada guru-guru. Kami kan ada e-Kinerja, nah akan ada pengurangan nilai e-Kinerja guru, dan itu yang saya potong sebagai hukuman terlambat," jelasnya.
Lesmono mengatakan, pihaknya sudah menjelaskan perkara ini kepada Dinas Pendidikan Kota Medan. Termasuk bagaimana kronologi yang sebenarnya.
Ia memastikan SDN 060951 Medan Labuhan akan tetap memberlakukan hal yang sama. Begitu pula dengan sanksi bagi siswa dan guru-guru yang masih terlambat.
"Kalau ini memang baik, ke depannya juga akan tetap dibuat seperti itu. Kalau saya mengalah, berarti saya kalah untuk menegakkan peraturan. Tetap guru standby di situ menjaga anak-anak, kok. Karena kalau ke depannya nanti ada terlambat, dan dipersilakan masuk, upacara jadi tidak khidmat," pungkasnya.
