Tim Riset Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh mengkaji penggunaan lumpur dan pasir bencana banjir bandang sebagai bahan baku bata ringan. Produk itu disebut dapat dipakai untuk mendukung program rehabilitasi dan rekonstruksi pascamusibah akhir November 2025 lalu.
Tim Riset USK sekaligus ahli beton ringan, Prof Abdullah, mengatakan bata ringan memiliki keunggulan dari sisi bobotnya yang lebih ringan sehingga berpotensi digunakan untuk pembangunan infrastruktur di wilayah yang sulit dijangkau. Materialnya ringan sehingga memudahkan pengangkutan ke wilayah pelosok.
"Pemanfaatan lumpur dan pasir juga berpotensi menjaga ekosistem karena dapat mengurangi kebutuhan pengambilan tanah liat dari alam sebagai bahan baku batu bata," kata Abdullah dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abdullah sudah memaparkan inovasi tersebut dalam rapat di Ruang Potda II Kantor Gubernur Aceh yang dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Teuku Robby Izra. Robby menjelaskan, USK dan Balai Jasa Konstruksi Wilayah Aceh (Balai Jakon) akan melakukan penilaian bersama terhadap peluang kerja sama dan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi pengolahan bata ringan.
Menurut Robby, tindak lanjut dari rapat tersebut adalah penilaian teknis dan peluang kerja sama, penyiapan model produksi yang dapat diterapkan kelompok masyarakat, pembinaan dan pelatihan masyarakat terdampak, penyiapan lokasi percontohan, pengkajian pemanfaatan Aceh Brick sebagai material rehabilitasi dan rekonstruksi, dan pengembangan pemanfaatan dalam program rehab-rekon 2026-2028.
"Poinnya adalah pemanfaatan lumpur dan pasir hasil sedimentasi bencana hidrometeorologi sebagai bahan baku bata ringan Aceh Brick untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana," jelas Robby.
Pemerintah Aceh, sebutnya, melihat pengembangan batu bata Aceh memiliki manfaat strategis yaitu mempercepat pembersihan lumpur dan pasir/sedimen pascabencana, β menghasilkan material alternatif untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, dan β menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Robby mengungkapkan, pemanfaatan material bencana diharapkan dapat menjadi bagian dari pendekatan pemulihan yang berbasis ekonomi masyarakat dan berkelanjutan. Meski demikian, sebelum Aceh Brick digunakan secara luas dalam pekerjaan pemerintah, produknya perlu melalui tahapan uji mutu, pengujian lapangan, pemenuhan standar teknis, dan pembuktian kinerja, sehingga penggunaannya aman dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Kita ingin mengubah material yang sebelumnya menjadi persoalan bencana menjadi sumber solusi. Lumpur dibersihkan, diolah menjadi material bangunan, masyarakat mendapatkan pekerjaan, dan hasilnya dapat kembali dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan Aceh," jelas Robby.
Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi mengatakan, Gubernur Muzakir Manaf (Mualem) memuji inovasi tim riset USK. Inovasi itu dinilai menjadi peluang untuk mengubah material yang selama ini menjadi persoalan lingkungan menjadi produk konstruksi bernilai guna dan ekonomi.
"Gubernur Mualem sangat mengharapkan hasil penelitian USK bernilai manfaat bagi Aceh. Pemerintah Aceh melihat inovasi ini sejalan dengan kebutuhan percepatan pemulihan pascabencana di Aceh," jelas Nurlis.
Simak Video "Video Prabowo: Bantuan Hunian Butuh Waktu, Kami Tak Punya Tongkat Nabi Musa"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
