Persoalan Gubernur Sumut (Gubsu) Bobby Nasution yang meninggalkan Rapat Paripurna DPRD Sumut menuai pro dan kontra. Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Fredyk Boven Ekayanta menilai keliru jika aksi Bobby itu disebut arogan.
"Pernyataan Ricky Anthony yang menyebut Gubsu arogan, itu tidak berdasar," kata Fredyk kepada detikSumut, Rabu (29/7/2026).
"Padahal tatib paripurna sudah dijalankan. Harusnya Pimpinan DPRD Sumut yang mengendalikan. Bukan lempar bola menuduh orang lain arogan. Ini membuat kita berasumsi macam-macam," sambungnya.
Fredyk menilai hubungan Bobby dan NasDem yang merupakan partai dari Ricky Antoni selama ini berjalan dengan baik. Namun, Fredyk menilai dengan adanya pernyataan ini dapat menciderai hubungan NasDem dan Bobby.
"Dari pola-polanya bisa kita interpretasikan ada kemungkinan mengarah ke sana (menciderai hubungan NasDem-BN). Apakah itu soal elektoral, atau bisa saja karena persoalan bisnis yang terganggu karena gencarnya Gubernur menegakkan aturan atau sebagainya. Atau seperti abang bilang tadi ada mungkin dendam pribadi oknum di NasDem sendiri. Dan ini banyak terjadi juga di daerah lain," sebut Fredyk.
Dia menyayangkan jika persoalan ini didasari masalah pribadi. Jika hal itu terjadi karena persoalan pribadi, kata Fredyk, persoalan ini akan menciderai citra NasDem.
"Jika persoalan pribadi itu dibawa ke sikap partai lalu kemudian menuduh pribadi seseorang dengan narasi negatif, saya khawatir nanti NasDem akan dianggap sedang memainkan politik kotor dengan menyerang Bobby Nasution," tambah Fredyk.
Untuk diketahui, Gubernur Bobby Nasution walk out dari Rapat Paripurna di Kantor DPRD Sumut soal penandatanganan bersama LPJ APBD 2025, Selasa (21/7). Bobby kemudian buka suara soal keluar dari paripurna.
"Itu masalah kuorum katanya, kan dibahas lagi, itukan rapat jadwalnya jam 9 sudah dimulai walaupun ngaret karena masalah kourum atau tidak kourum, tapi kan rangkaian paripurna sudah selesai, di akhir malah dipertanyakan diperdebatkan sesama anggota DPRD," kata Bobby Nasution di Medan, Sabtu (25/7/2026).
Bobby mengaku mendapat laporan jika fraksi yang mempersoalkan kuorum malah paling sedikit hadir. Anggota DPRD yang interupsi merupakan dari Fraksi PDIP.
"Yang nanyakan kuorum atau tidak kuorum itu kalau tidak salah fraksinya justru yang paling sedikit hadir disampaikan ke saya, saya tidak atau benar atau tidak karena bukan saya megang absennya," ucapnya.
Sehingga Bobby mengaku keluar karena menilai persoalan itu merupakan masalah internal DPRD Sumut. Termasuk adanya rapat dengar pendapat (RDP) di jam yang sama.
"Saya rasa itukan antara mereka, antara anggota DPRD sama anggota DPRD, mereka bilang ada rapat di jam yang bersamaan, itukan urusan DPRD bukan urusan kami dari eksekutif, jadi saya rasa karena ada kegiatan yang lain, kami tinggalkan lokasi," ujarnya.
Usai aksi Gubernur itu, kritikan dari NasDem disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Sumut Ricky Anthony viral di media sosial. Politikus NasDem itu menilai sikap Bobby itu merupakan gambaran arogan dan meminta sikap itu dihentikan.
"Itu pandangan partai dan saya sebagai Wakil Ketua Partai NasDem Sumut yang juga pimpinan DPRD tentu menyampaikan pandangan partai, dan besok di paripurna akan ada pandangan fraksi terkait hal yang sama," ucap Ricky, Rabu (29/7).
Ketua DPW NasDem Sumut Iskandar membenarkan pernyataan Ricky. Iskandar mengatakan jika kritikan itu merupakan sikap resmi dari NasDem Sumut.
"Ya, pernyataan Wakil DPRD Ricky Anthony merupakan sikap resmi Partai Nasdem Sumatera Utara," kata Iskandar saat dihubungi.
Simak Video "Video Tarif Baru Parkir di Medan: Motor Rp 2 Ribu, Mobil 4 Ribu"
(afb/afb)