Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menilai investasi data center yang terus mengalir ke Batam tidak hanya berdampak pada sektor teknologi, tetapi juga mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi lainnya. Meski dinilai minim menyerap tenaga kerja secara langsung, investasi tersebut disebut memiliki efek berganda (multiplier effect) yang luas.
Hal itu disampaikan Amsakar saat menjawab pertanyaan mengenai besarnya nilai investasi data center yang masuk ke Batam, namun dinilai belum mampu menyerap tenaga kerja sebanyak industri manufaktur padat karya.
Menurut Amsakar, investasi di bidang teknologi informasi, cloud, dan data center tidak bisa hanya diukur dari jumlah pekerja yang direkrut secara langsung. Industri tersebut, kata dia, akan memunculkan kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi khusus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang masuk itu investasi teknologi informasi, IT, cloud, atau apa pun namanya. Itu memberikan multiplier effect. Akan ada pendidikan dan pelatihan SDM untuk mengelolanya," kata Amsakar, Rabu (8/7/2026).
Ia menilai Batam juga perlu mulai bertransformasi dari industri padat karya menuju industri berbasis teknologi. Karena itu, pemerintah lebih fokus menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri baru.
"Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan SDM yang bisa memenuhi kebutuhan pasar kerja yang ada," ujarnya.
Selain menciptakan lapangan kerja langsung, Amsakar menyebut investasi data center juga akan menghidupkan sektor informal di Batam. Ia mencontohkan geliat usaha kuliner yang berkembang di berbagai kawasan seperti Thamrin hingga Bengkong.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dari investasi tersebut akan ikut menggerakkan sektor transportasi, perdagangan jasa, konstruksi, hingga pariwisata.
"Pertumbuhan ekonomi itu tidak hanya bicara tenaga kerja formal, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap sektor informal. Kuliner tumbuh, transportasi hidup, konstruksi berkembang, perdagangan jasa dan pariwisata juga ikut bergerak," ujarnya.
Amsakar mengatakan tren investasi di Batam dalam dua tahun terakhir menunjukkan pergeseran dari industri manufaktur menuju industri berbasis teknologi. Meski demikian, kondisi ketenagakerjaan dinilai tetap membaik.
Ia mengklaim angka pengangguran di Batam terus menurun. Berdasarkan pembahasan bersama Komisi II DPR RI, tingginya angka pengangguran lebih banyak dipengaruhi arus migrasi masyarakat yang datang ke Batam untuk mencari pekerjaan.
"Relatif tidak ada problem soal ketenagakerjaan. Angka pengangguran turun. Setelah kita buka datanya, penyebabnya lebih banyak karena arus migrasi yang masuk ke Batam," katanya.
Amsakar juga menjawab kekhawatiran mengenai kebutuhan air bersih untuk operasional data center. Menurutnya, persoalan tersebut telah dibahas secara terbuka dengan para investor sejak tahap awal.
Ia mengatakan setiap investor diberikan gambaran mengenai tantangan yang dimiliki Batam, terutama terkait keandalan pasokan listrik dan air bersih. Sebagai solusinya, investor disebut bersedia membangun infrastruktur pendukung, termasuk jaringan pipanisasi hingga fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).
"Kami sampaikan persoalan yang ada, termasuk air bersih dan listrik. Mereka siap membangun pipanisasi dan SWRO. Jadi langkah antisipasinya sudah dibahas bersama," ujarnya.
