Studi: Kanker Pankreas Bisa Dideteksi Lewat Feses

Nafilah Sri Sagita K - detikSumut
Senin, 15 Jun 2026 06:00 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Gejala awal kanker sering kali sulit dikenali karena menyerupai gangguan kesehatan ringan yang umum dialami sehari-hari. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa petunjuk penting mengenai keberadaan kanker yang selama ini mungkin luput dari perhatian, di antaranya dapat dikenali lewat feses atau tinja.

Temuan ini berasal dari penelitian terkait Pancreatic Cancer, salah satu jenis kanker yang dikenal sulit dideteksi pada tahap awal. Para peneliti menemukan bahwa perubahan komposisi bakteri usus yang terekam dalam feses berpotensi menjadi indikator adanya kanker sebelum gejala serius muncul.

Kanker Pankreas Kerap Terdiagnosis Terlambat

Dilansir detikHealth dari Science Alert, jenis kanker pankreas yang paling umum ditemukan adalah pancreatic ductal adenocarcinoma (PDAC). Kanker ini berkembang pada saluran pankreas yang terhubung langsung dengan usus kecil.

Karena hubungan tersebut, perubahan biologis yang terjadi di pankreas dapat memengaruhi kondisi saluran pencernaan dan meninggalkan jejak yang dapat terdeteksi melalui feses.

Selama ini, kanker pankreas sering baru diketahui setelah pasien mengalami keluhan seperti kelelahan berkepanjangan, gangguan metabolisme energi, penurunan kondisi fisik, atau nyeri yang sulit dijelaskan penyebabnya. Gejala-gejala tersebut kerap dianggap sepele sehingga diagnosis sering dilakukan ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.

Bukan Bentuk Feses, Melainkan Bakteri di Dalamnya

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa fokus utama bukan pada warna atau bentuk tinja, melainkan pada mikrobioma usus, yaitu kumpulan bakteri yang hidup di dalam saluran pencernaan.

Dengan memanfaatkan teknologi sekuensing genetik 16S rRNA, para ilmuwan dapat mengidentifikasi jenis dan jumlah bakteri yang terdapat dalam usus seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita kanker pankreas memiliki komposisi bakteri usus yang berbeda dibandingkan individu sehat.

Salah satu perbedaan yang paling menonjol adalah tingkat keragaman bakteri usus yang lebih rendah pada pasien kanker pankreas. Pola perubahan tersebut bahkan membentuk semacam "sidik jari biologis" yang dapat digunakan untuk membedakan pasien kanker dari orang sehat.

Dalam studi internasional yang melibatkan peneliti dari Finlandia dan Iran pada 2025, pola bakteri dalam feses digunakan untuk melatih sistem kecerdasan buatan atau AI.

Hasilnya, teknologi tersebut mampu mengidentifikasi pasien kanker pankreas hanya berdasarkan profil mikrobioma usus yang diperoleh dari sampel tinja. Temuan ini dinilai membuka peluang baru dalam pengembangan metode deteksi dini kanker.

Perkembangan teknologi seperti shotgun metagenomic sequencing juga memungkinkan para ilmuwan memetakan seluruh genom bakteri usus secara lebih rinci, sehingga membantu memahami hubungan antara mikrobioma dan berbagai penyakit.

Penelitian serupa kini tidak hanya difokuskan pada kanker pankreas, tetapi juga mulai diterapkan pada Colorectal Cancer, Parkinson's Disease, serta sejumlah penyakit kronis lainnya.

"Kita semakin memahami bahwa jawaban dari berbagai pertanyaan medis bisa saja tersembunyi dalam hal yang selama ini kita abaikan, yaitu feses," tulis peneliti dari Quadram Institute dalam The Conversation.



Simak Video "Video: Deteksi Dini Disabilitas pada Anak"

(nkm/nkm)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork