Fenomena hilangnya ingatan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar atau sekadar lupa. Namun, tekanan psikologis dan pengalaman traumatis ternyata dapat membuat seseorang kesulitan mengakses memori tertentu dalam hidupnya.
Psikolog Klinis Sairah menjelaskan bahwa trauma berat dapat memengaruhi cara kerja otak dalam menyimpan dan mengakses ingatan. Dalam kondisi tertentu, otak akan berusaha melindungi individu dari pengalaman yang menyakitkan dengan menekan akses terhadap memori tersebut.
"Dalam kondisi trauma berat, otak bekerja dalam kondisi survival mode. Bagaimana dia bisa mempertahankan hidup dengan cara menekan memori-memori buruknya, sehingga memori itu tersimpan secara tersembunyi dan sulit diakses secara sadar," ujarnya.
Menurut Sairah, kondisi ini merupakan bagian dari mekanisme pertahanan diri atau defense mechanism yang dilakukan otak untuk melindungi kesehatan psikologis seseorang. Karena itu, ingatan yang sulit diakses bukan berarti benar-benar hilang.
Ia mengatakan kondisi tersebut sering ditemukan pada individu yang pernah mengalami kekerasan, pengabaian emosional, bencana alam, hingga pelecehan seksual pada masa kecil.
"Ingatan itu sebenarnya bukan serta-merta hilang, tetapi sulit diakses," katanya.
Meski demikian, Sairah mengingatkan bahwa upaya mengingat kembali pengalaman yang terlupakan tidak boleh dilakukan secara paksa. Menurutnya, kondisi psikologis individu harus dipastikan stabil terlebih dahulu sebelum dilakukan proses penggalian memori.
Pemulihan akses terhadap ingatan dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan psikologis, seperti konseling, psikoterapi, maupun terapi trauma yang disesuaikan dengan akar permasalahan setiap individu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hilangnya akses terhadap memori tertentu dapat berdampak pada kehidupan seseorang. Dampak yang muncul dapat berupa kebingungan terhadap identitas diri, kesulitan memahami emosi, perasaan terputus dari masa lalu, gangguan hubungan interpersonal, hingga munculnya kecemasan dan depresi.
Namun, Sairah menegaskan bahwa dampak tersebut tidak selalu dialami oleh semua orang. Respons terhadap trauma dan tekanan psikologis sangat dipengaruhi oleh ketahanan mental masing-masing individu.
"Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda. Ada yang mampu menjadikan pengalaman traumatis sebagai motivasi, tetapi ada juga yang mengalami dampak psikologis yang lebih berat," tutupnya.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Mendobrak Mitos Lansia Harus Banyak Diam Lewat Komunitas AgeWell"
(mjy/mjy)