Prabowo Klaim Banyak Negara Minta Beras Indonesia, Pesan ke Bulog Tak Jual Murah

Prabowo Klaim Banyak Negara Minta Beras Indonesia, Pesan ke Bulog Tak Jual Murah

Tim detikFinance - detikSumut
Minggu, 17 Mei 2026 01:01 WIB
Titiek Soeharto berdiri saat diroasting Presiden Prabowo dalam peluncuran KDMP di Nganjuk.
Prabowo Subianto (Foto: Bakrie/detikJatim)
Jakarta -

Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketersediaan pangan menjadi persoalan vital bagi keberlangsungan sebuah negara. Karena itu, menurutnya, Indonesia harus mampu mencapai swasembada pangan dan tidak bergantung pada impor, terutama untuk komoditas utama seperti beras.

"Survival bangsa bukan sekedar lebih murah di mana tapi ada atau tidak, dan akhirnya sejarah, takdir, dan kenyataan membuktikan bahwa karena kita sudah lebih dulu aman soal pangan, krisis apapun di luar negara kita relatif lebih aman," kata Prabowo dalam peresmian 1.062 Kopdes Merah Putih seperti dikutip detikFinance dari siaran YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (16/5/2026).

Prabowo menyebut pentingnya ketahanan pangan kini semakin terasa di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu. Sejumlah negara produsen pangan mulai menutup ekspor demi menjaga cadangan untuk kebutuhan domestik mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, lanjut Prabowo, kondisi tersebut membuat negara-negara yang selama ini bergantung pada impor akhirnya mencari pasokan beras dari Indonesia.

"Sekarang banyak negara minta beli beras dari kita, minta beli beras dari kita. Tetangga-tetangga kita, mereka-mereka yang lebih hebat dari kita, yang menganggap dirinya lebih hebat dari kita, tapi sekarang harus datang ke Indonesia minta 'boleh nggak kita beli beras?'," ujar Prabowo.

ADVERTISEMENT

Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa negara awalnya masih mencoba mencari sumber pasokan lain sebelum akhirnya mendatangi Indonesia. Situasi makin sulit setelah India menghentikan ekspor beras, jagung, dan gandum, yang kemudian diikuti oleh Bangladesh.

"Ada yang masih harga diri, agar lambat mintanya. Mungkin dia berusaha beli lagi dari mana. Ternyata beberapa hari yang lalu, India mengumumkan tutup, tidak ekspor beras, jagung, gandum. India tutup. Disusul oleh Bangladesh, tutup. Akhirnya, ada juga negara-negara yang akhirnya datang juga ke kita," sambungnya.

Prabowo mengaku sejumlah negara telah menghubungi Indonesia untuk membeli beras. Namun, dalam proses negosiasi, ada pihak yang meminta potongan harga cukup besar.

"Ingat, krisis bisa lama ini, yang utama kita amankan rakyat kita dulu. Jadi, ada juga mau beli beras, habis itu minta korting, banyak banget kortingnya," ujarnya.

Meski demikian, Prabowo menegaskan Indonesia tetap siap membantu negara lain yang membutuhkan beras, asalkan kepentingan petani dalam negeri tetap terjaga. Ia pun meminta Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Bulog agar tidak menjual beras dengan harga terlalu murah.

"Saya bilang, beri. Kalau mereka butuh, kita harus bantu. Kita jual kepada mereka, tapi harganya ya, yang oke lah. Jangan petani kita korban, ya kan? Harga harus minimal untung dikit lah. Pak Amran ya. Dirut Bulog mana? Jangan jual terlalu murah. Jangan getok tapi jangan jual terlalu murah," tegas Prabowo.



(nkm/nkm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads