Tanda-tanda Orang Tak Bahagia Menurut Psikolog

Dwi Puspa Handayani Berutu - detikSumut
Rabu, 13 Mei 2026 07:00 WIB
Ilustrasi keluarga bahagia (Foto: dok. Freepik/tirachardz)
Medan -

Punya harta yang melimpah tidak menjamin seseorang hidup bahagia. Persoalan tentang kebahagiaan telah menjadi perdebatan yang signifikan di kalangan para filsuf, tokoh agama, dan psikolog selama berabad-abad.

Dikutip dari penelitian Muskinul Fuad dari STAIN Purwokerto, kebahagiaan bukanlah sekadar soal keberuntungan, tetapi juga merupakan kondisi mental yang mendalam dan dapat diukur.

Di artikel ini, kita akan eksplorasi cara mengidentifikasi tanda-tanda ketidakbahagiaan seseorang dari perspektif psikologi serta metode untuk mendapatkan kembali makna hidup yang hilang.

Apa Itu Kebahagiaan?

Sebelum kita mengeksplorasi ketidakbahagiaan, penting untuk memahami apa artinya. Psikologi membagi kebahagiaan ke dalam dua kategori:

1. Kebahagiaan objektif yang diukur berdasarkan kriteria eksternal, seperti prinsip agama atau norma masyarakat. Seseorang yang hidup tanpa batasan mungkin mengklaim dirinya bahagia, tetapi secara objektif dianggap tidak bahagia karena terjebak dalam kondisi istidraj yang dapat menyebabkan kehancuran di masa depan.

2. Kebahagiaan objektif yang merupakan perasaan dari dalam diri. Dalam kajian psikologi, ini dikenal sebagai Subjective Well-Being (SWB). Ukurannya cukup sederhana, yaitu seberapa sering emosi positif muncul dibandingkan dengan emosi negatif dalam kehidupan sehari-hari individu tersebut.



Simak Video "Video: IDAI Soroti Poster Film 'Aku Harus Mati', Dinilai Picu Bunuh Diri"

(astj/astj)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork