Terlihat Seperti Baik-baik Saja, Quiet Burnout Diam-diam Menguras Mental Pekerja

Terlihat Seperti Baik-baik Saja, Quiet Burnout Diam-diam Menguras Mental Pekerja

Laila Syakira - detikSumut
Selasa, 12 Mei 2026 03:00 WIB
Ilustrasi wanita lelah bekerja depan laptop
Foto: Ilustrasi Quite Burnout. (Getty Images/iStockphoto/fizkes)
Medan -

Fenomena quiet burnout atau kelelahan kerja yang dipendam diam-diam mulai banyak dialami pekerja, terutama generasi muda. Kondisi ini membuat seseorang terlihat tetap semangat dan baik-baik saja di lingkungan kerja, padahal secara mental dan emosional sebenarnya sudah merasa sangat lelah.

Psikolog Industri dan Organisasi sekaligus Founder Mind Psikologi Indonesia Consultant, Armita mengatakan quiet burnout mirip dengan silent burnout, yakni kondisi kelelahan yang tidak ditunjukkan secara terbuka kepada orang lain.

"Kalau burnout biasa itu orang menunjukkan rasa capeknya, misalnya marah atau mengeluh karena pekerjaan banyak. Tapi kalau quiet burnout, dia tetap terlihat semangat. Orang lain melihat dia baik-baik saja, padahal di dalam dirinya dia merasa lelah luar biasa," ujar Armita, Senin (11/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, orang yang mengalami quiet burnout biasanya tetap menjalani pekerjaan seperti biasa dan tidak ingin terlihat lemah di depan lingkungan sosial maupun tempat kerja.

"Orang yang quiet burnout itu biasanya tetap menerima pekerjaan tambahan. Di depan orang dia menunjukkan semangat, tapi ketika sendirian dia menghayati bahwa dirinya sebenarnya sudah sangat lelah. Karena semuanya dipendam sendiri, pengikisan energinya bisa lebih berat dibanding burnout biasa," katanya.

ADVERTISEMENT

Armita menjelaskan kondisi tersebut bisa menjadi lebih berbahaya karena lingkungan sekitar tidak mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan seseorang. Akibatnya, orang yang mengalami quiet burnout tidak mendapatkan bantuan ataupun penanganan yang tepat.

"Kalau burnout biasa kan terlihat, sehingga atasan atau lingkungan bisa melakukan sesuatu. Tapi kalau quiet burnout ini dia menekan apa yang dirasakan. Orang lain jadi tidak tahu, akhirnya solusi atau intervensinya juga tidak muncul. Dia merasa capek sendiri, menyimpan sendiri, dan lama-lama masalahnya makin menumpuk," jelasnya.

Ia menyebut ada beberapa tanda seseorang mengalami quiet burnout, mulai dari rasa lelah yang tidak hilang meski sudah beristirahat, kehilangan motivasi kerja, sulit fokus, mudah lupa, hingga mengalami perubahan suasana hati.

"Kadang di depan orang dia terlihat semangat, tapi di dalam dirinya sebenarnya sudah capek. Sulit fokus, mudah lupa, mood-nya naik turun, sampai akhirnya mulai menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa apa yang dia rasakan tidak sesuai dengan yang dia tunjukkan," ujarnya.

Menurut Armita, generasi Z menjadi kelompok yang cukup rentan mengalami burnout. Hal ini dipengaruhi oleh pola hidup yang tumbuh bersama perkembangan teknologi dan sistem serba instan.

"Generasi Z lahir sudah dekat dengan teknologi dan kemudahan. Banyak hal bisa didapat dengan cepat. Jadi ketika menghadapi tekanan kerja yang menurut generasi sebelumnya biasa saja, mereka bisa merasa itu sangat berat," katanya.

Ia menilai kondisi tersebut bukan berarti generasi Z tidak mampu bekerja, melainkan karena pola pembentukan mental yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

"Bukan berarti mereka tidak pintar atau tidak mampu. Tapi mereka tumbuh dalam sistem yang serba cepat dan mudah. Jadi ketika menghadapi sesuatu yang lebih berat, mereka lebih mudah merasa kewalahan dan akhirnya lebih rentan burnout," tuturnya.

Armita juga mengingatkan pentingnya mencari bantuan profesional apabila rasa lelah tidak kunjung membaik meski sudah mencoba beristirahat atau melakukan penanganan secara mandiri.

"Kalau sudah istirahat tapi motivasi kerja tetap tidak kembali, energinya tidak pulih, itu tandanya perlu mencari bantuan profesional," katanya.

Ia menambahkan, quiet burnout yang terus dipendam dapat berkembang menjadi kondisi psikologis yang lebih serius karena individu terus menekan emosinya sendiri.

"Karena dia terus menekan apa yang dirasakan dan merasa dirinya baik-baik saja, lama-lama bisa berdampak lebih buruk. Ada yang kualitas tidurnya terganggu, merasa hampa, halusinasi, bahkan ada yang sampai merasa ada masalah pada organ tubuhnya, sudah memeriksakan diri ke dokter spesialis tapi ternyata sumbernya dari pikirannya sendiri," pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh Laila Syakira peserta program Maganghub Kemenaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Apakah Video Game Punya Pengaruh Besar Terhadap Agresi?"
[Gambas:Video 20detik] (mjy/mjy)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads