Apa Itu Crab Mentality? Psikolog Ungkap Dampaknya ke Kesehatan Mental

Laila Syakira - detikSumut
Jumat, 08 Mei 2026 11:10 WIB
Foto: Ilustrasi. (Getty Images/tuaindeed)
Medan -

Fenomena crab mentality atau mental kepiting dinilai masih sering terjadi di lingkungan kerja, sekolah hingga pertemanan. Sikap ini menggambarkan perilaku seseorang yang berusaha menghambat keberhasilan orang lain karena rasa iri dan tidak percaya diri.

Psikolog Industri dan Organisasi sekaligus Founder Mind Psikologi Indonesia Consultant, Armita, S.Psi., M.Psi. mengatakan, istilah crab mentality diibaratkan seperti kepiting di dalam ember yang saling menarik ketika salah satunya mencoba keluar.

"Kalau kita lihat perumpamaannya, ada beberapa kepiting di dalam ember. Ketika satu kepiting berusaha naik keluar, kepiting lain justru mencapit dan menariknya supaya tidak berhasil keluar. Nah, itu gambaran dari crab mentality, ketika seseorang tidak suka melihat orang lain berkembang atau lebih sukses dari dirinya," ujar Armita saat diwawancarai detikSumut, Kamis (7/5/2026).

Menurut Armita, sikap tersebut biasanya muncul karena adanya rasa insecure dalam diri seseorang. Alih-alih ikut berkembang, seseorang dengan crab mentality justru berusaha menjatuhkan orang lain agar posisinya tetap sama.

"Orang dengan mental seperti ini sebenarnya punya rasa tidak percaya diri. Jadi ketika melihat orang lain berhasil, fokusnya bukan bagaimana dia ikut berkembang, tapi bagaimana caranya supaya orang lain itu jatuh. Dia merasa tertekan ketika melihat orang lain lebih unggul atau punya kelebihan yang tidak dia miliki," katanya.

Ia mencontohkan fenomena ini sering terjadi di dunia kerja, misalnya ketika seseorang merasa tersaingi oleh rekan kerjanya yang berpeluang mendapat promosi jabatan.

"Bukannya fokus meningkatkan kemampuan diri, dia malah mencari kekurangan orang lain lalu menyebarkan hal-hal negatif supaya rekannya tidak dipromosikan. Cara seperti ini tidak sehat karena motivasinya bukan berkembang, tapi menjatuhkan," jelasnya.

Menurutnya, crab mentality tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental pelakunya sendiri jika terus dipelihara.

"Kalau sikap ini terus dipelihara, lama-lama bisa memicu kecemasan, kelelahan mental sampai depresi klinis. Karena pikirannya habis untuk membandingkan diri dengan orang lain dan berusaha menjatuhkan orang lain," tuturnya.

Sementara bagi korban, dampaknya tergantung pada kekuatan mental masing-masing individu. Korban dengan mental yang lemah cenderung mudah terpengaruh oleh komentar negatif dan akhirnya kehilangan rasa percaya diri.



Simak Video "Video: Psikolog Bicara Soal Bocah SD Bunuh Diri di Ngada NTT"


(mjy/mjy)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB