Dampak Psikologis Anak Korban Kekerasan Seksual di Ruang Publik

Dampak Psikologis Anak Korban Kekerasan Seksual di Ruang Publik

Siti - detikSumut
Kamis, 30 Apr 2026 09:46 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Foto: Andhika Akbarayansyah
Medan -

Beberapa waktu lalu sempat viral sebuah podcast ternama menghadirkan anak yang menjadi korban kekerasan seksual (KS) sebagai narasumber. Anak tersebut diwawancarai kronologi bagaimana kekerasan tersebut menimpa dirinya.

Hal ini menuai beragam respons baik dari influencer, psikolog, maupun masyarakat umum. Pasalnya, hal ini dinilai mengulang kembali trauma yang dialami korban.

Psikolog anak dan remaja, Maya Yasmin, menegaskan bahwa langkah tersebut sebaiknya dihindari. Menurutnya, menceritakan ulang pengalaman traumatis di hadapan publik justru dapat memperparah kondisi psikologis anak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Meminta anak korban kekerasan seksual menceritakan pengalamannya di podcast sebaiknya tidak dilakukan karena anak akan mengulang rasa takut dan menyakitkan yang pernah dia alami di depan publik yang tidak dia kenal. Tentunya kondisi ini berdampak pada mental anak, seperti malu, kecemasan, perasaan tidak berharga, mudah marah, menarik diri hingga gangguan tidur," ujarnya saat diwawancarai, Kamis (30/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, ketika anak kembali mengingat peristiwa traumatis tanpa pendampingan dan situasi yang aman, tubuh dan emosinya bisa merespons seolah kejadian tersebut terjadi kembali. Hal ini berpotensi mengganggu kestabilan emosi serta memperlambat proses pemulihan yang sedang dijalani.

"Proses pemulihan yang sudah berjalan juga bisa terhambat atau bahkan mundur karena salah satu modal pemulihan adalah rasa aman dan tenang. Ketika anak kembali dihadapkan pada situasi yang membuatnya tidak nyaman, maka rasa aman itu bisa hilang dan memperlambat pemulihan," jelasnya.

Selain dampak emosional, Maya Yasmin juga menyoroti risiko jangka panjang dari jejak digital. Konten yang telah tersebar di internet dapat diakses kapan saja, termasuk oleh lingkungan sosial anak di masa depan.

Hal ini berpotensi menimbulkan stigma maupun perlakuan sosial yang tidak sehat.

"Jejak digital yang terekam dan tersebar luas berpotensi diakses oleh orang sekitar anak di masa depannya seperti teman kuliah, rekan kerja dan sebagainya. Tentunya ada beragam respon yang mungkin akan diterima anak dari lingkup sosialnya di masa depan seperti mengasihani berlebihan, menjauhi, atau bahkan mendapat stigma 'korban kekerasan seksual' yang rentan mengganggu psikologis anak," katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa jika keterangan anak memang dibutuhkan, prosesnya harus mengutamakan keamanan dan kenyamanan anak. Persetujuan anak menjadi syarat utama, di mana anak benar-benar memahami tujuan dan proses yang akan dijalani tanpa adanya tekanan.

Maya mengimbau, dalam kejadian serupa wawancara sebaiknya dilakukan dalam kondisi psikologis anak yang stabil, tidak sedang dalam keadaan tertekan atau ketakutan. Selain itu, prosesnya harus berlangsung di ruang tertutup dengan pendampingan orang yang dipercaya anak serta tenaga profesional seperti psikolog.

Anak juga perlu diberi kebebasan penuh untuk bercerita tanpa paksaan. Dukungan yang konsisten dan lingkungan yang aman dinilai menjadi kunci utama dalam membantu pemulihan anak korban kekerasan seksual, tanpa harus mengekspos pengalaman mereka ke ruang publik.

Artikel ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Marak Kasus Kekerasan Seksual, Fanny Ghassani: Selalu Berada di Pihak Korban"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads