Pernyataan Wakil Wali Kota (Wawalkot) Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, saat melakukan sidak terkait pencurian pasir ilegal di pinggir jalan, viral di media sosial. Dalam video tersebut, Li menyampaikan komitmen benahi Batam.
Pernyataan Li Claudia itu diunggah di akun media sosialnya.
"Kami langsung menghentikan aktivitas tersebut di tempat," kata Li dalam postingan dilihat detikSumut, Rabu (29/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Li Claudia menyebut aksi pencurian dapat menyebabkan pergeseran tanah. "Merusak badan jalan, dan tentu membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya," ucapnya.
Dia memastikan penindakan dilakukan sesuai aturan yang berlaku.
Dalam postingan yang sama, Li Claudia juga menegur seorang warga yang tengah mengumpulkan pasir di pinggir jalan. Ia menilai tindakan tersebut tidak pantas.
"Kami lagi benahi Batam, Pak. Bapak kalau kayak gini bagaimana? Masa pagi kerjanya nyolong, malam jadi satpam. Bapak itu satpam, lho," ujar Li.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyampaikan bahwa saat ini Pemkot Batam memang tengah melakukan pendataan serta pembenahan administrasi kependudukan.
"Ibu wakil saya percayakan untuk melakukan penajaman data di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang mengikutsertakan seluruh camat untuk melakukan pemilahan data yang konkret sehingga kebijakan yang diambil ke depannya tepat sasaran," ujarnya.
Amsakar mengatakan Batam saat ini tengah menghadapi tekanan arus pertumbuhan migrasi yang sangat tinggi. Karena itu, Pemkot Batam tengah melakukan pengendalian pertumbuhan penduduk.
"Batam termasuk lima daerah di Indonesia dengan arus migrasi yang harus betul-betul kita kendalikan di tingkat daerah," ujarnya.
Amsakar menjelaskan, perbandingan kedatangan penduduk ke Batam mencapai sekitar 17 ribu orang berdasarkan data tahun 2024 dan 2025. Data tersebut diperoleh dari Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Negeri.
"Jadi sekarang, dalam 6 bulan terakhir saya mengatakan bahwa jumlah penduduk Batam kurang lebih 1,2 juta orang, ternyata tidak tepat karena saat ini hampir mencapai 1,4 juta orang," ujarnya.
Menurut Amsakar, tingginya arus migrasi ke Batam akan berdampak pada berbagai persoalan, mulai dari peningkatan volume sampah hingga bertambahnya angka pengangguran. Selain itu, kondisi tersebut juga berpengaruh pada ketersediaan listrik dan air bersih.
"Pada akhirnya ini akan berdampak pada daerah. Dampaknya pertama volume sampah akan meningkat, kedua angka kemiskinan akan tumbuh, ketiga tingkat pengangguran juga sulit dihindari. Selain itu, fasilitas umum dan fasilitas sosial hingga infrastruktur harus kita kejar," ujarnya.
"Infrastruktur yang paling fundamental yakni terkait keandalan listrik dan air bersih, karena peningkatannya sangat drastis," tambahnya.
