Sering Disalahpahami, Ini 5 Mitos Jagung Manis yang Terbongkar

Sering Disalahpahami, Ini 5 Mitos Jagung Manis yang Terbongkar

Atiqa Rana - detikSumut
Minggu, 26 Apr 2026 08:00 WIB
Ilustrasi wanita makan jagung
Foto: Getty Images/iStockphoto/Valeriy_G
Medan -

Jagung manis sering dianggap sebagai makanan yang kurang sehat karena rasanya yang manis dan kandungan gulanya. Tak sedikit orang memilih menghindarinya, khawatir bisa memicu kenaikan berat badan hingga gangguan kesehatan tertentu. .

Di balik rasanya yang lezat, jagung manis justru menyimpan berbagai nutrisi penting bagi tubuh. Sayangnya, sejumlah mitos yang beredar membuat manfaatnya kerap diabaikan. Padahal, anggapan tersebut belum tentu sepenuhnya benar.

5 Mitos Tentang Jagung Manis

Lalu, apa saja kesalahpahaman tentang jagung manis yang perlu diluruskan? Berikut ulasannya. Dilansir detiFood dari eatingwell.com berikut 5 mitos jagung manis yang terbantahkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Tinggi Gula

Untuk ukuran sayuran, jagung manis memang bisa dibilang tinggi akan gula. Tetapi sebenarnya gula alami di dalam satu tongkol jagung ukuran sedang hanya 5 gram yang mana kurang dari sepertiga gula dalam pisang.

Jagung juga dianggap sebagai makanan dengan indeks glikemik rendah berkat kandungan seratnya. Karena dicerna secara perlahan, jagung juga tidak menyebabkan lonjakan gula darah tidak sehat.

ADVERTISEMENT

2. Tidak Memiliki Manfaat Kesehatan

Mitos ini jelas salah karena jagung manis memiliki banyak manfaat kesehatan. Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), jagung manis kaya akan lutein dan zeaxanhin, dua fitokimia yang meningkatkan kesehatan penglihatan.

Selain membantu menurunkan berat badan, serat tidak larut di dalam jagung juga memberi makan bagi bakteri baik dalam usus yang akhirnya membantu pencernaan lancar dan menjaga keteraturan buang air besar.

Di dalam jagung juga terkandung vitamin B dalam jumlah sehat, zat besi, protein, dan kalium yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

3. Proses Memasak Menghilangkan Nutrisi Jagung

Mitos terkait proses memasak menghilangkan nutrisi jagung juga tidak benar. Menurut ulasan tahun 2018 dalam Food Science and Human Wellness, memasak jagung manis justru bisa meningkatkan manfaat nutrisinya.

Ulasan ini juga menyatakan bukti menunjukkan jika konsumsi jagung secara teratur mengurangi risiko penyakit kronis, seperti kardiovaskular dan diabetes tipe-2.

Jagung manis merupakan sayuran sehat dengan beragam potensi manfaat kesehatan. Jadi tidak perlu menghindarinya karena mengonsumsi jagung manis dalam batas wajar bisa membantu menambah nutrisi.


4. Tinggi Lemak

Mitos yang beredar mengungkap jagung manis tinggi akan lemak. Tetapi secara teknis, jagung dianggap sebagai makanan rendah lemak dengan kandungan lemak hanya sekitar 1 gram per tongkol, lapor USDA (Departemen Pertanian Amerika Serikat).

Lemak di dalam jagung juga merupakan campuran antara lemak jenuh, lemak tak jenuh tunggal, lemak tak jenuh ganda. Lemak tak jenuh ganda maupun lemak tak jenuh tunggal telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan jantung selama memang jagung dimakan utuh begitu saja, tanpa ditambah dengan susu atau mentega.

5. Naikkan Berat Badan

Jika jagung manis ditambah dengan mentega, saus, keju, meses, atau topping berkalori lainnya, tentu dapat berisiko menambah berat badan. Tetapi satu tongkol jagung polos hanya mengandung sekitar 122 kalori.

Selain itu, satu tongkol jagung juga mengandung hampir 3 gram serat yang dapat membuat perut kenyang lebih lama.

Di dalamnya juga terkandung pati resisten, jenis kabrohidrat yang lambat dicerna dan telah terbukti membantu mengontrol berat badan.

Secara keseluruhan, kandungan kalori rendah dan serat tinggi pada jagung dapat menurunkan berat badan jika dikonsumsi dalam jumlah sedang dan diimbangi dengan makanan gizi seimbang.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kerap Terlupakan tapi Bisa Maksimalkan Tinggi Badan Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads