Pemprov Tetapkan Aceh Siaga Bencana, Posko Diaktifkan 24 Jam hingga 20 April

Aceh

Pemprov Tetapkan Aceh Siaga Bencana, Posko Diaktifkan 24 Jam hingga 20 April

Agus Setyadi - detikSumut
Senin, 13 Apr 2026 19:21 WIB
Kantor Gubernur Aceh
Foto: Kantor Gubernur Aceh (Agus Setyadi/detikSumut)
Banda Aceh -

Pemerintah Aceh resmi menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah di Tanah Rencong. Penetapan status itu menyusul adanya peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan BMKG.

Status siaga bencana berlaku mulai hari ini hingga 20 April mendatang. Pemerintah Aceh mengaktifkan posko siaga darurat selama 24 jam di titik-titik rawan bencana.

"Kami meminta BPBD di kabupaten/kota untuk melakukan aktivasi posko dan memantau perkembangan cuaca secara real-time bersama BMKG dan BPBA. Periode siaga ini sangat krusial guna meminimalisir dampak risiko," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan informasi BMKG, kata Nasir, kondisi atmosfer di wilayah Aceh saat ini dipengaruhi oleh pola siklonik, belokan angin (shearline), serta awan konvergensi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan. Kondisi itu menyebabkan hampir seluruh wilayah Aceh berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat memicu bencana banjir, longsor hingga angin kencang.

Kondisi cuaca ekstrem diperkirakan berlangsung mulai 11 hingga 20 April. Nasir menjelaskan, langkah mitigasi tidak boleh ditunda.

ADVERTISEMENT

Pemerintah daerah diminta segera melakukan normalisasi infrastruktur air melalui pembersihan drainase, sungai, serta pengerukan sedimentasi guna mencegah luapan air. Selain itu, upaya pencegahan juga mencakup pemangkasan pohon rawan tumbang serta pengamanan baliho dan utilitas berisiko tinggi.

Nasir meminta petugas lapangan meningkatkan patroli rutin di kawasan rawan banjir, tanah longsor, serta daerah aliran sungai (DAS) yang kritis. Dalam aspek kesiapsiagaan darurat, Pemerintah Aceh menginstruksikan mobilisasi Tim Reaksi Cepat (TRC) beserta penempatan alat berat di titik-titik siaga.

"Sarana pendukung seperti perahu motor, kendaraan evakuasi, logistik darurat, hingga tenda pengungsian harus dalam kondisi siap pakai. Jalur evakuasi dan lokasi pengungsian juga diminta untuk diverifikasi ulang guna memastikan keamanannya," ujar Nasir.

Mantan Kadispora Aceh itu menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam penanganan bencana. Selain itu, Nasir juga mengingatkan optimalisasi sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) menjadi perhatian utama.

Para camat, keuchik, dan perangkat desa diminta aktif menyebarkan informasi cuaca dan peringatan dini kepada masyarakat melalui berbagai kanal komunikasi. Nasir juga meminta seluruh bupati dan wali kota untuk melaporkan perkembangan situasi dan kesiapsiagaan wilayahnya secara rutin kepada Pemerintah Aceh.

"Jangan ada informasi yang terputus. Serangkaian langkah preventif ini diharapkan mampu meminimalisir risiko dampak cuaca ekstrem selama periode siaga yang berlangsung hingga 20 April 2026," jelasnya.



(agse/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads