Perkuburan muslim Mandailing di Jalan Brigjen Katamso, Medan, merupakan pemakaman khusus orang suku Mandailing yang beragama Islam. Perkuburan ini telah digunakan lebih dari 100 tahun.
Muhammad Fauzi, Nazir sekaligus ahli waris penghulu pada masa kesultanan Deli, menuturkan bahwa asal-usul pemakaman ini berawal dari seorang penghulu, H. Husein yang juga merupakan Kakek Fauzi. H. Husein dipercaya oleh kesultanan untuk mengelola tanah wakaf di kawasan Sungai Mati dan mengusulkan agar lahan tersebut sebagai tempat pemakaman khusus bagi masyarakat Mandailing.
"Dulu, penghulu di Sungai Mati ini Atok. Dapat dari kesultanan tanah ini. Itulah dijadikan pemakaman tanah ini untuk Mandailing. Karena Atok tadi penghulu, maka terjadilah pemakaman ini," ujar Fauzi, Rabu (8/4/2026).
Namun, dari berbagai sumber lainnya disebutkan bahwa tanah perkuburan ini mulanya berasal dari tokoh-tokoh Mandailing pada masa itu yang kemudian menjadi tanah wakaf.
Seiring berjalannya waktu, pemakaman ini terus digunakan oleh masyarakat. Pengelola diteruskan oleh ahli waris H. Husein.
Namun, perubahan mulai terasa setelah wafatnya orang tua Fauzi pada tahun 2002. Saat itu, belum ada kepengurusan yang jelas sehingga pengelolaan berjalan tanpa arah selama beberapa tahun.
"Pada dasarnya ini untuk Mandailing. Tapi saat orang tua saya meninggal tahun 2002, jadi berkecamuk. Masing-masing mau jadi kenaziran. Karena tidak ada kepengurusan sampai 2007, akhirnya selama itu juga yang bukan Mandailing pun dimakamkan di sini, entah marga-marga apa saja," jelasnya.
Simak Video "Video: AS Bantah Minta Perpanjang Gencatan Senjata ke Iran"
(astj/astj)