Mengenal Willem Iskander, Tokoh Pendidikan dari Mandailing

Mengenal Willem Iskander, Tokoh Pendidikan dari Mandailing

Siti Asyaroh - detikSumut
Kamis, 14 Mei 2026 01:00 WIB
Mengenal Willem Iskander, Tokoh Pendidikan dari Mandailing
Foto: Ilustrasi Willem Iskandar. (dok. Istimewa)
Medan -

Willem Iskander dikenal sebagai salah satu tokoh pendidikan penting di Indonesia. Namanya lekat dengan perjuangan membangun sekolah guru di Mandailing pada masa kolonial Belanda.

Menurut catatan dalam buku "Lebih Jauh Tentang Willem Iskander dan Si Bulus Bulus, Si Rumbuk Rumbuk" oleh Z. Pangaduan Lubis, Willem Iskander lahir pada Maret 1840 di Desa Pidoli Lombang, Mandailing Godang. Saat kecil ia dikenal dengan nama Si Sati.

Ada juga yang menyebut namanya Ali Sati Nasution. Ia diberi gelar Sutan Iskandar.

"Menurut tradisi suku bangsa Mandailing seorang putra Mangaraja biasanya diberi nama Sutan. Hal ini kelihatannya berlaku atas diri Willem Iskander. Ia putra ayahnya bergelar Mangaraja (Tinating) dan ia mendapat gelar Sultan (Iskandar)," tulis dalam buku tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak muda, Willem Iskander dikenal sangat cerdas. Hal itu seperti yang disebutkan dalam buku tersebut.

"Di mana pun Willem Iskander mulai memasuki sekolah, di Panyabungan atau di Kotanopan, ia dinyatakan sebagai seorang murid yang luar biasa pintar."

ADVERTISEMENT

Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa saat berusia 15 tahun, Willem Iskander sudah bekerja di kantor pemerintahan kolonial Belanda. Hal itu menunjukkan kemampuannya sudah diakui sejak usia muda.

Pada 1857, ia berangkat ke Belanda untuk menempuh pendidikan. Willem Iskander dibawa oleh Asisten Residen Alexander Phillippus Godon.

Lalu pada 1858, ia pun menukar namanya dari Si Sati menjadi Willem Iskander.

"Apakah ada anjuran dari pihak Belanda atau hanya atas kemauannya sendiri tidak jelas. Yang dapat dilihat ialah bahwa dalam nama tersebut ada nama raja Belanda yang berkuasa pada masa itu yaitu Raja Willem III. Apakah nama Willem itu diambil dari nama raja tersebut dan Iskandar tetap dipakai dengan sedikit perubahan dari Iskandar sebagai nama aslinya, sehingga merupakan satu perpaduan yang mengandung sesuatu tujuan tertentu, tidak diketahui dengan jelas," demikian tertulis dalam buku tersebut.

Pada 1859, ia juga mendapat beasiswa pendidikan dari pemerintah Belanda. Perjalanan panjang pendidikannya, hingga ia kembali ke tanah air pada 1861.

Setahun kemudian, tepatnya 1862, Willem Iskander mendirikan sekolah guru (Kweek School) di Tano Bato, Mandailing. Saat itu usianya baru 22 tahun.

Sekolah tersebut dibangun sederhana. Bangunannya terbuat dari kayu dan bambu dengan atap rumbia.

Meski sederhana, sekolah itu tercatat sebagai sekolah guru kedua di Sumatera setelah Bukittinggi.

Willem Iskander juga mengajar langsung di sekolah itu. Bahkan ia tinggal di salah satu ruangan sekolah agar dekat dengan lingkungan sekolah.

Murid datang dari berbagai daerah di Mandailing. Mereka berjalan kaki hingga naik pedati demi bisa belajar di sekolah tersebut.

Willem Iskander mengajarkan bahasa Belanda dan bahasa Melayu kepada murid-muridnya. Ia percaya kemampuan bahasa dapat membuka jalan agar murid menjadi guru, penulis, maupun penerjemah.

Banyak muridnya kemudian menjadi guru, penulis buku-buku maupun penterjemah buku-buku berbahasa Belanda ke dalam bahasa Melayu dan Mandailing. Karya mereka ikut membantu perkembangan pendidikan di Tapanuli Selatan.

Pendiri Pusat Informasi dan Dokumentasi Mandailing, Rizali Harris Nasution, menilai Willem Iskander memiliki keistimewaan yang sulit ditandingi tokoh lain.

"Ada satu hal yang tidak bisa ditandingi oleh siapa pun yang menyatakan dirinya sebagai tokoh pendidikan Indonesia, Willem Iskander ini mendirikan sekolah guru. Itu yang sulit dicari tandingannya," ujar pria yang juga berprofesi sebagai dokter tersebut, Selasa, (12/5/2026).

Menurut Rizali, pemikiran Willem Iskander sudah jauh melampaui zamannya.

"Jadi, Willem Iskander itu berpikir satu tingkat di atas yang lain. Itu yang membuat Willem Iskander menurut saya sangat istimewa. Willem Iskander juga dikenal karena dia seorang penulis, jadi beliau tokoh pendidikan yang lengkap," lanjutnya.

Keberhasilan Willem Iskander juga mendapat perhatian dari Inspektur Jenderal Pendidikan Bumiputera, Mr. JA Van der Chijs. Sekolah guru Tano Bato dinilai mengalami perkembangan pesat dalam waktu singkat.

Nama Willem Iskander sampai kini dikenang sebagai tokoh pendidikan yang berjasa besar dalam memajukan pendidikan masyarakat Mandailing dan Indonesia.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Viral Polsek Muara Batang Gadis Sumut Dibakar Warga"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads