Ogoh‑Ogoh yang identik dengan perayaan Nyepi umat Hindu tidak hanya ada di Bali. Warga Hindu di Medan juga turut merayakannya. Tradisi yang identik dengan ritual menjelang hari suci ini ternyata bukan sekadar arak‑arakan, melainkan sarat makna spiritual dan filosofi yang mendalam bagi umat Hindu di Kota Medan.
Pinandita Darma menjelaskan, setiap tahun menjelang Nyepi, umat Hindu di Medan merayakannya dengan mengarak patung besar yang dikenal sebagai Ogoh‑Ogoh di beberapa titik kota.
"Pawai ini umumnya digelar pada malam sebelum Nyepi, yang dalam tradisi Hindu merupakan hari kesunyian dan refleksi. Ogoh‑Ogoh yang diarak melambangkan Bhuta Kala atau kekuatan alam semesta, yang sering dipandang sebagai manifestasi sifat‑sifat negatif dalam kehidupan manusia," ujar Pinandita, Darma, Kamis (19/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darma menambahkan, melalui pawai ini, umat Hindu berusaha menghadapi, mengakui, dan membersihkan diri dari energi negatif sebelum memasuki masa hening Nyepi.
Ogoh‑Ogoh bukan sekadar hiasan yang diarak, tetapi simbol spiritual yang mencerminkan sisi-sisi negatif dalam diri manusia, seperti keserakahan, amarah, dan ketidakseimbangan batin. Pawai ini dipandang sebagai proses penyucian diri dan lingkungan, yang akhirnya membawa kedamaian dan refleksi pribadi saat Nyepi.
"Walaupun tradisi Ogoh‑Ogoh paling terkenal di Bali, di Medan tradisi ini juga berkembang sebagai bagian dari pelestarian budaya Hindu yang menghargai nilai sejarah dan filosofi. Umat Hindu di sini tetap memegang filosofi inti, yakni menyingkirkan hal-hal buruk dalam kehidupan untuk menyambut Nyepi dengan hati yang bersih dan damai. Hal ini juga menjadi daya tarik budaya yang semakin dikenal luas," tambahnya.
Perayaan Ogoh‑Ogoh di Medan bukan sekadar pawai seni dan budaya. Di balik warna dan bentuknya yang mencolok, tersimpan pesan spiritual yang dalam, sebagai simbol untuk upaya meraih keseimbangan dalam kehidupan sosial serta keagamaan.
