Berpuasa karena Adanya Tekanan dari Lingkungan Sekitar, Bolehkah?

Berpuasa karena Adanya Tekanan dari Lingkungan Sekitar, Bolehkah?

Finta Rahyuni - detikSumut
Selasa, 10 Mar 2026 12:07 WIB
Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UINSU Prof Muzakkir.
Foto: Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UINSU Prof Muzakkir. (Finta Rahyuni/detikSumut)
Medan -

Puasa adalah salah satu rukun Islam yang dilaksanakan pada bulan Ramadan. Berpuasa diwajibkan bagi setiap muslim yang telah baligh.

Kewajiban berpuasa itu tercantum dalam Surah Al Baqarah Ayat 183, yang berbunyi:

ΩŠΩ°Ω“Ψ§ΩŽΩŠΩ‘ΩΩ‡ΩŽΨ§ Ψ§Ω„Ω‘ΩŽΨ°ΩΩŠΩ’Ω†ΩŽ Ψ§Ω°Ω…ΩŽΩ†ΩΩˆΩ’Ψ§ كُΨͺِبَ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’ΩƒΩΩ…Ω Ψ§Ω„Ψ΅Ω‘ΩΩŠΩŽΨ§Ω…Ω ΩƒΩŽΩ…ΩŽΨ§ كُΨͺِبَ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„Ω‘ΩŽΨ°ΩΩŠΩ’Ω†ΩŽ مِنْ Ω‚ΩŽΨ¨Ω’Ω„ΩΩƒΩΩ…Ω’ Ω„ΩŽΨΉΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩƒΩΩ…Ω’ ΨͺَΨͺΩ‘ΩŽΩ‚ΩΩˆΩ’Ω†ΩŽΫ™

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".

Berpuasa tentunya diniatkan untuk mengharapkan rida Allah. Lalu, bagaimana jika seseorang yang berpuasa hanya karena ikut-ikutan atau karena adanya tekanan dari lingkungan sekitar? Apakah puasanya tetap sah? Berikut penjelasannya:

ADVERTISEMENT

Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Prof Muzakkir mengatakan bahwa setiap ibadah itu tergantung pada niatnya, sama halnya dengan berpuasa. Harusnya, ibadah puasa dilaksanakan atas dasar keimanan kepada Allah SWT.

"Jadi, memang puasa yang kita jalani, sejatinya kita lakukan adalah karena Allah. Kita salat, puasa, kata kunci harus lillahi ta'ala, karena Allah," kata Muzakkir dalam program kultum Ramadan detikSumut, Selasa (10/3/2026).

Muzakkir mengatakan bahwa ibadah yang dilakukan dengan niat menghadap rida Allah, akan dijalani dengan ikhlas. Hal itu tentu berbeda dengan puasa yang dilakukan hanya karena sekadar ikut-ikutan atau karena ada tekanan sosial.

"Kalau kita lakukan karena Allah, itu akan mendatangkan keikhlasan, mudah kita menjalankannya. Namun, kalau puasa kita lakukan karena tekanan sosial, segan kepada pimpinan, segan kepada masyarakat, pasti pelakunya itu merasa berat dalam menjalankan ibadah puasa, kenapa? karena dia lakukan penuh dengan kepalsuan, bukan karena kesadaran hatinya, tapi karena sesuatu di luar dirinya," jelasnya.

Prof Muzakkir juga mengutip hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

Muzakkir mengatakan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya mengajarkan agar umat Islam menghidupkan malam-malam Ramadan dengan beribadah. Hadist itu berbunyi:

Ω…ΩŽΩ†Ω’ Ψ΅ΩŽΨ§Ω…ΩŽ Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ₯ΩΩŠΩ…ΩŽΨ§Ω†Ω‹Ψ§ ΩˆΩŽΨ§Ψ­Ω’ΨͺΩΨ³ΩŽΨ§Ψ¨Ω‹Ψ§ غُفِرَ Ω„ΩŽΩ‡Ω Ω…ΩŽΨ§ ΨͺΩŽΩ‚ΩŽΨ―ΩŽΩ‘Ω…ΩŽ مِنْ Ψ°ΩŽΩ†Ω’Ψ¨ΩΩ‡ΩΩŽΩ†Ω’

Artinya: Barang siapa berpuasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadist tersebut, kata Muzakkir, dijelaskan bahwa berpuasa pada bulan Ramadan itu harus didasarkan pada iman dan mengharap rida Allah.

"Siapa yang berpuasa Ramadhan, dua dasarnya, imanan. Jadi, dasarnya harus karena iman. Iman itu karena Allah, bukan karena mertua, bukan karena pimpinan, bukan karena teman, tapi karena Allah. Kedua, wahtisaban, dan dia mengharap rida-Nya Allah dalam amal ibadah itu, maka ini menjadi sebab diampuni Allah dosa-dosanya," jelasnya.

"Tapi kalau dia berpuasa karena tekanan sosial, apakah dia diterima? diterima atau tidak, itu Allah yang Maha Tahu. Tapi selagi dia menjalankan itu, memenuhi syariatnya, dia menahan diri dari mulai waktu pagi sampai terbenam, dia berniat. Nah, terlepas niatnya bukan karena Allah, tentu Allah memberi nilai sesuai dengan apa yang diniatkan," sambung Muzakkir.




(fnr/dhm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads