Cahaya Ramadan

Kultum: Ramadan Produktif Vs Rebahan Terus, Mana yang Lebih Realistis?

Nizar Aldi - detikSumut
Sabtu, 28 Feb 2026 17:00 WIB
Foto: Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UINSU Prof Muhammad Syukri Albani Nasution. (M Alfath Ishari/detikSumut)
Medan -

Saat bulan Ramadan, perbincangan soal puasa Ramadan produktif dan Ramadan rebahan terus kerap muncul. Lantas mana yang lebih realistis dijalankan?

"detikers yang dirahmati Allah, dalam perjalanan hidup ini pasti dinamikanya besar sekali. Kadang-kadang hidup kita terasa mudah, kadang-kadang hidup kita terasa sulit, tapi ingat dalam setiap perjalanan itu kesungguhan melewati dinamika itu bagian dari mujahadah, kesungguhan," kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Prof Muhammad Syukri Albani Nasution dalam Program Kultum Ramadan, Sabtu (28/2/2026).

Prof Syukri Albani membacakan potongan Surah Ar-Ra'd ayat 11. Ayat ini menjelaskan soal kesungguhan.

Latin: Innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim

Artinya: Tidaklah Allah merubah satu kaum kecuali kaum itu punya ekspektasi dan kesungguhan untuk merubah dirinya sendiri.

Kemudian untuk menjawab soal soal Ramadan produktif atau rebahan terus, Prof Syukri Albani mengajak untuk meskrining kemampuan diri sendiri. Sehingga tidak perlu membandingkan dengan kemampuan fisik orang lain.

"Lalu saya mau ajak kitamenskrining kemampuan diri kita sendiri, kadang-kadang kita ini memang bukan orang yang punya produktivitas yang kencang secara jasmani, bukan orang yangfisiknya kuat, bukan orang yangfisiknya strong, sehingga kalau kita maudibenturin dengan teman-teman kita yang tetap bekerjahardwork gitu, kita memang tidak mampu," ujarnya.

Sehingga kemampuan mengenali diri sendiri penting. Namun soal produktivitas, anak muda disebut tidak boleh kalah, sebab saat ini bukan hanya hardskill, tapi juga softskill.

"Maka oleh karena itu kemampuan untuk mengenali diri sendiri itu penting, tapi kalau bicara tentang proyeksi produktivitas itu anak muda nggak boleh gagal lo, karena sekarang kan kita bekerja bukan hanya pakai hardskill tapi juga softskill," ucapnya.

Prof Syukri Albani mengajak detikers untuk menjadi waktu sebagai wasilah memperbaiki diri. Sebab puasa hanya tidak makan dan minum, bukan tidak mampu produktivitas.



Simak Video "Ramadan dan Etika Bermedia Digital"


(niz/mjy)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork