Ada yang menjadi pertanyaan yang mendasar soal bagaimana ibadah seseorang yang berpuasa di bulan Ramadan tanpa melaksanakan salat. Begini penjelasan ustaz soal perkara ini.
"detikers yang dirahmati oleh Allah SWT, rukun Islam itu ada 5 ya, yang pertama syahadat dan yang terakhirnya itu haji, di antaranya itu ada puasa, ada salat. Yang mau saya kasih tahu ke kita semua dan mudah-mudahan kita sudah tahu sih, itu (rukun Islam) tidak hirarkis, bukan berarti yang paling priority itu nomor 1 dan yang terakhir itu nggak," kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Prof Muhammad Syukri Albani Nasution dalam Program Kultum Ramadan, Minggu (1/3/2026).
Kelima rukun Islam itu disebut merupakan azas keseimbangan. Tidak perlu membenturkan antara satu dengan yang lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kelima-limanya adalah azas keseimbangan, puasa kita tidak akan sempurna kalau salat kita juga bolong-bolong, salat kita juga nggak akan pernah sempurna kalau puasa kita hancur-hancuran. Oleh karena itu saya mau ajak kita untuk tidak membangun dikotomi atau benturan-benturan atau perbedaan-perbedaan. Kira-kira logikanya begini 'saya ustaz alhamdulillah puasa saya belum ada tinggal, tapi salah Zuhur saya yang banyak tinggal' itu hati-hati," ujarnya.
Di sisi lain, Prof Syukri Albani mengingatkan agar tidak melihat secara parsialistik. Misalnya merasa puasa hanya sekali setahun maka diprioritaskan, sedangkan salat tiap hari lalai.
Dalil untuk melaksanakan salat disebut sangat banyak. Allah SWT telah mengingatkan agar tidak sepele terhadap salat atau lalai, seperti dalam Surah Al-Ma'un.
"Apa di akhir itu Allah sebut? Kata Allah celaka orang-orang yang salat yang salatnya itu lalai, lalai itu apa? Tidak punya ekspektasi, tidak punya hajat, tidak punya kerinduan, tidak punya semangat," ungkapnya.
Prof Syukri Albani menjelaskan soal pesan moral terkait cara pandang soal ibadah ritual. Menurutnya, tidak boleh membenturkan sesama ritual.
"Nah ini juga pesan moral kepada kita semua, saya mau ajak kita untuk pelan-pelan menggeser cara pandang terhadap ibadah yang ritual. Salat itu ritual, puasa itu juga ritual, dan antara ritual dengan ritual sebenarnya nggak boleh ada benturan apapun," jelasnya.
Dalam konteks salat, harus melaksanakan dengan sami'na wa atho'na, tanpa mempertanyakan kenapa disuruh salat. Sebab itu adalah perintah Allah SWT.
Sehingga Prof Syukri Albani meminta agar detikers semangat dalam menjalani Ramadan. Ramadan diharapkan mampu memperbaiki imunitas batiniah dan imunitas ketaatan.
"Maka oleh karena itu, teman-teman detikers yang Gen Z terutama ayok semangat, semoga Ramadan ini adalah Ramadan perbaikan untuk kita, bukan hanya perbaikan gizi setelah berbuka tapi juga perbaikan terhadap imunitas batiniah dan imunitas ketaatan kita," tuturnya.
