Apa Tanda Ramadan Kita Berhasil, Meski Ibadah Belum Sempurna? Ini Kata Ustaz

Cahaya Ramadan

Apa Tanda Ramadan Kita Berhasil, Meski Ibadah Belum Sempurna? Ini Kata Ustaz

Nizar Aldi - detikSumut
Jumat, 27 Feb 2026 12:00 WIB
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Prof Muhammad Syukri Albani Nasution
Foto: Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Prof Muhammad Syukri Albani Nasution (Dok. Alfath Ishari/detikSumut)
Medan -

Puasa Ramadan memasuki hari ke-9 tahun ini. Lantas apa tanda Ramadan kita berhasil meskipun ibadah belum sempurna? Begini penjelasannya.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Prof Muhammad Syukri Albani Nasution mengatakan jika tidak ada tanda spesifik soal apakah Ramadan kita berhasil atau tidak. Namun dalam surah Al-Baqarah, ada tiga tujuan berpuasa.

"Memang tanda yang spesifik kita nggak tahu, kalau Alquran kan ada 3 itu di surah Al-Baqarah. La'allakum tattaqun, la'allakum tasykurun, la'allahum yarsyudun. Kita ini akan jadi orang takwa, jadi orang syukur, jadi orang cerdas," kata Prof Muhammad Syukri Albani Nasution dalam Program Kultum Ramadan, Jumat (27/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun menurut Prof Syukri Albani, ketiganya bisa digabung menjadi satu dalam konteks membangun indikator terhadap kesuksesan puasa. Yakni lebih takut meninggalkan perintah Allah SWT.

"Saya mau bilang sih tiga-tiganya kita gabung menjadi satu aja, yang pertama, kalau mau membangun indikator terhadap kesuksesan orang Ramadan, sensitifitasnya hidup, kira-kira sensitifitas nya apa? Lebih takut ninggalin perintah Allah, kalau ngerjain amal itu udah mulai nggak berhitung," ucapnya.

ADVERTISEMENT

Kemudian kehidupan seseorang yang sukses Ramadan nya lebih etis. Konteks ini disebut masuk ke ranah akhlak.

"Berikutnya lebih etis hidupnya, lebih itu gimana? Pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya, ya kalau dengan orang yang lebih dewasa memantaskan diri, ketemu dengan lebih kecil pandai menjadi pengayom dan seterusnya, dan ini adalah di wilayah akhlak," ujarnya.

Hal itu menjadi alat ukur bagi seseorang soal keberhasilan puasa. Bukan menjadi seseorang yang hanya melakukan sesuatu atas keinginannya tanpa memikirkan keinginan orang lain.

"Saya kira ini bisa menjadi alat ukur di diri kita, jangan sampai model hidup kita model orang sengok. Orang-orang sengok itukan sor-sor di dia, nggak sor di orang. Kita mau buat baik tapi nggak cocok di orang, kita berbuat jahat justru tidak cocok lagi di orang, semoga di Ramadan ini bisa memperbaiki diri kita," tuturnya.




(niz/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads