Penangkaran Buaya Asam Kumbang dikenal sebagai salah satu objek wisata tertua sekaligus simbol konservasi satwa di Kota Medan. Lokasi ini bukan hanya populer sebagai taman buaya terbesar di Indonesia, tetapi juga memiliki rekam jejak sejarah yang telah berlangsung lebih dari 60 tahun.
Berlokasi di Jalan Bunga Raya II, Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, penangkaran ini didirikan pada 1959 oleh pecinta satwa Lo Than Muk atau yang akrab disapa Lo Kie Yoe.
"Pada awalnya, kegiatan ini bermula dari kegemaran beliau memelihara buaya. Ia kemudian mengumpulkan 12 ekor buaya hasil tangkapan dari sungai dan rawa di sekitar Kota Medan. Seiring berjalannya waktu, buaya-buaya tersebut berkembang biak dan populasinya terus meningkat. Ketika jumlahnya semakin banyak, lokasi penangkaran dipindahkan ke lahan seluas kurang lebih dua hektare yang hingga kini menjadi kawasan wisata edukasi reptil terkenal di Medan," ujar pengelola Penangkaran Buaya Asam Kumbang, Lim Wi Chu.
Lim Wi Chu menjelaskan, pada masa awal berdirinya, buaya belum termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi sehingga masyarakat masih diperbolehkan memeliharanya untuk kepentingan hobi maupun usaha.
"Dedikasi Lo Than Muk dalam merawat reptil tersebut justru memberikan kontribusi besar bagi perkembangan konservasi dan pariwisata daerah. Melihat potensi unik yang dimiliki, Dinas Pariwisata Kota Medan kemudian mendorong agar penangkaran ini dibuka untuk umum. Sejak awal dekade 1980-an, tempat ini resmi beroperasi sebagai destinasi wisata edukasi yang menarik minat wisatawan lokal hingga mancanegara," katanya.
Simak Video "Mengunjungi Keindahan Mata Air Bah Tio, Sumatera Utara "
(astj/astj)