Puasa Ramadan tidak hanya bermakna menahan lapar dan haus. Bagi umat Islam, bulan suci ini menjadi momentum mengumpulkan pahala sebagai bekal di akhirat. Namun, di tengah menjalankan ibadah tersebut, kerap muncul pertanyaan: apakah puasa yang dijalani benar-benar diterima oleh Allah SWT?
Memahami tanda-tanda diterimanya puasa menjadi penting agar seorang hamba bisa beribadah dengan lebih khusyuk dan penuh harap. Berikut rangkuman penjelasan para ulama beserta dalil shahih mengenai ciri-ciri puasa Ramadan yang diterima Allah SWT dilansir detikSumut dari detikHikmah dan berbagai sumber.
Tanda-tanda Puasa Ramadan Diterima Allah
Dikutip dari buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan karya Abu Maryam Kautsar Amru serta Apakah Amalan Kita Diterima Allah SWT? karya Alexander Zulkarnaen, berikut beberapa tanda yang disebutkan para ulama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Amalan Berlanjut dan Semakin Baik Setelah Ramadan
Salah satu indikasi diterimanya puasa adalah adanya kesinambungan amal saleh setelah Ramadan, seperti melanjutkan puasa sunnah di bulan Syawal dan bulan lainnya. Ibnu Rajab Rahimahullah menjelaskan dalam Lathoiful Ma'arif:
أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها
Artinya: "Kembali lagi melakukan puasa setelah puasa Ramadan, itu tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Karena Allah jika menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, 'Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.'
Oleh karena itu, siapa yang melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan yang pertama diterima. Sedangkan yang melakukan kebaikan lantas setelahnya malah ada kejelekan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya."
2. Dijauhkan dari Perilaku Buruk Saat Berpuasa
Ciri lainnya adalah kemampuan menjaga diri dari perbuatan tercela seperti dusta, ghibah, fitnah, dan berbagai maksiat yang bisa mengurangi bahkan menghapus pahala puasa.
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan tetap mengamalkannya, maka Allah Ta'ala tidak butuh kepada puasanya." (HR Bukhari)
Dalam hadis lain disebutkan, "Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja." (HR Ibnu Majah)
3. Merasakan Ketenangan Hidup
Orang yang amalnya diterima Allah SWT biasanya merasakan ketenangan dalam hidupnya. Ia menjalani hari-harinya dengan lebih baik dan penuh keberkahan, termasuk ketika berpuasa.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surah An-Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَلِحًا مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ ۖ حَيَوَةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Meski demikian, tanda-tanda tersebut bukanlah jaminan mutlak. Hanya Allah SWT yang mengetahui apakah suatu amalan diterima atau tidak. Tugas manusia adalah berusaha maksimal dan senantiasa berharap ridha-Nya.
(nkm/nkm)
