Seiring matahari pagi yang mulai membiaskan cahaya di kaki Gunung Singgalang, geliat masyarakat di berbagai nagari di Sumatera Barat tampak lebih sibuk dari biasanya. Bukan di ladang atau pasar, konsentrasi warga kali ini terfokus di rumah-rumah ibadah, mulai dari masjid raya di pusat kabupaten hingga musala kecil di sudut kampung.
Inilah momen tradisi Bakuras, sebuah gerakan gotong royong massal untuk membersihkan dan mempercantik sarana ibadah demi menyambut jamaah tarawih perdana.
Tradisi Bakuras (yang secara harfiah berarti membersihkan secara total hingga ke sudut-sudut sulit) adalah manifestasi nyata dari semangat kolektif masyarakat Minang. Berdasarkan literatur klasik "Alam Takambang Jadi Guru" karya A.A. Navis, masyarakat Minangkabau memandang masjid bukan sekadar tempat sujud, melainkan pusat peradaban, tempat bermusyawarah, dan jati diri sebuah komunitas. Oleh karena itu, memastikan masjid dalam keadaan suci, wangi, dan bersih adalah bagian dari harga diri dan kehormatan sebuah kaum.
Lebih dari Sekadar Kerja Bakti
Dalam praktiknya, tradisi yang berlangsung hari ini melibatkan pembagian tugas yang terstruktur secara alami. Kaum pria, mulai dari remaja hingga orang tua, berbagi tugas berat; ada yang membersihkan bak wudhu agar airnya jernih, mengecat ulang pagar yang kusam, mencuci karpet di aliran sungai terdekat, hingga memastikan sistem pengeras suara berfungsi dengan baik untuk kumandang azan dan tadarus sepanjang malam nanti.
Sementara itu, kaum ibu tidak tinggal diam. Mereka biasanya berkumpul di area dapur umum atau teras masjid untuk menyiapkan penganan khas dan minuman hangat bagi para pekerja. Suasana kekeluargaan yang kental ini menciptakan harmoni yang mengharukan, di mana tawa dan canda mengiringi setiap tetes keringat yang jatuh.
Simak Video "Video: Cerita Berdirinya Masjid Hijrah BJTB, Oase di Bawah Beton Tol Padaleunyi "
(astj/astj)